Kami Tidak Takut

Kami tidak takut.

Kalimat pendek ini berkumandang di segenap penjuru tanah air, Indonesia. Kalimat mirip slogan ini menjadi ngetren di dunia nyata maupun dunia maya. Hastag, baner, poster, dan spanduk berisi kalimat ampuh ini menguggah kesadaran dan keberanian rakyat Indonesia untuk tidak takut terhadap ancaman atau gertakan teroris. Sebuah reaksi dahsyat atas peristiwa bom yang mengguncang kawasan Sarinah, Jakarta.

Aksi teroris selayaknya di lawan dengan sungguh-sungguh. ‘Kill one, frighten a thousandyang merupakan prinsip operasi para teroris tampaknya tidak lagi menggetarkan. Beberapa saat setelah peristiwa Thamrin media menayangkan gambar atau video yang mencengangkan. Masyarakat mendatangi TKP lalu membuat foto selfie, pedagang makanan dan minuman masih asyik melayani pembeli. Ledakan dan baku tembak yang baru saja terjadi tak menyiutkan nyali mereka.




Sekarang bagaimana?

‘Kami tidak takut’ hendaknya tidak berhenti pada slogan belaka. Masyarakat bisa mengaktualisasikan dan mengimplementasikan secara lebih nyata. Aparat atau instansi yang bertugas menghandle aksi teroris sudah ada. Baik dalam rangka pencegahan maupun penindakannya. Masyarat bisa membantu mereka dengan melakukan early warning. Jika di sekitar rumahnya ada orang baru mengontrak atau kos sebaiknya diinformasikan kepada Ketua RT. Jaman dulu di setiap kampung ada papan kecil tergantung. Terdapat tulisan berbunyi :”Bermalam 1×24 jam wajib lapor RT. “Saya tidak tahu apakah ketentuan itu masih berlaku atau tidak.

Untuk mendeteksi kehadiran orang tak dikenal di kampung lebih mudah dibandingkan di kawasan perkotaan. Orang kampung relatif lebih mengenal tetangga kiri-kanannya. Sementara saya sendiri tidak mengenal tetangga yang rumahnya ada di belakang rumah saya yang di Surabaya. Menggelikan memang, tetapi faktanya memang demikian. Kadang penghuni lama belum saya kenal sudah berganti lagi penghuni baru yang mengontrak rumah tersebut. Saya pun tidak mengetahui apakah penghuni baru itu sudah melapor kepada Pak RT atau belum.

Atasan saya pernah bercerita bahwa di sebuah mushala tampak ada 3 orang asing yang sedang shalat. Seketika itu ada warga yang langsung memberitahukan kepada Babinsa yang kebetulan sedang anjangsana di kampung tersebut. Dari laporan warga tersebut akhirnya beberapa orang asing digiring ke kantor polisi untuk dilakukan pemeriksaan. Begitulah ‘early warning’ dilaksanakan. Kemauan dan kesanggupan untuk melakukan lapor cepat seperti ini selayaknya ditumbuhkembangkan di lingkungan masyarakat. Dengan cara itu maka ‘kecolongan’ tak akan terjadi.

Dalam melaksanakan aksinya penjahat juga menggunakan ilmu. Seorang teroris bisa saja menyamar menjadi tukang tambal ban, tukang bakso, reparasi radio dan televisi, atau membuka warung sembako. Gaya hidup mereka kelihatan normal-normal saja. Namun suatu saat tampak ada acara pertemuan yang dihadiri oleh bukan penduduk setempat. Tamu yang setiap hari hilir mudik di rumah seorang tambal ban mungkin bisa dijadikan alasan untuk menilai bahwa dia bukan sembarang tukang tambal ban. Nah warga yang peka bisa memberitahukan hal ini kepada ketua RT. Secara berantai pak RT lalu bisik-bisik kepada aparat kepolisian terdekat. Pihak kepolisian bisa menerjunkan personilnya untuk melakukan penyelidikan.

Kalimat ‘kami tidak takut’ tentu tidak bisa diterapkan dalam segala hal karena dampaknya bisa menjadi negatif. Misalnya: kami tidak takut menerobos palang pintu kereta api atau kami tidak takut naik di atas atap kereta api. Wah, itu sih namanya ‘nyidam terbelo’ kata Emak. Kalimat itu diucapkan oleh Emak ketika melihat ada anak yang berlari-lari sehingga tak melihat ada truk berjalan menuju arahnya. Balapan liar dengan menggunakan sepeda motor, minum minuman oplosan juga termasuk di dalamnya.

“Kami siap menyabung nyawa jika warga desa kami dipukuli oleh warga desa lain.” Ini ungkapan ‘kami tidak takut’ yang salah arah dan wujud solidaritas sempit. Muaranya adalah tindakan negatif destruktif.




Teroris harus menjadi musuh bersama. ‘Kami tidak takut’ hendaknya bukan hanya ramai di media sosial semata. Kepekaan dan kepedulian masyarakat terhadap hal-hal yang ‘tampak beda’ dan ‘di luar kebiasaan’ perlu diikuti security mindedness (sadar pengamanan) yang memadai. Ini bukan berarti bahwa masyarakat boleh main hakim sendiri.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

12 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. saya takut kok pakde apalagi untuk hal yang membahayakan

    Lebih baik menghindar jika di dekat kita ada huru-hara

  2. susanti dewi says:

    menjaga keamanan memang diawali dari lingkungan terkecil kita, yaitu RT. Jika di lingkungan RT pengendalian keamanannya sudah baik, InsyaAllah kita akan aman, negara juga aman. Alangkah baiknya jika terus memberikan pengarahan dan penyuluhan di setiap RT, bahwa jika ada yg mencurigakan, segera laporkan, dan mendata penghuni baru maupun penghuni yg mengontrak rumah.

    Kalau di pedesaan masih agak mudah mendeteksi kedatangan orang baru
    Di kota agak susah

  3. Kadang2 kita hanya latah sesaat ya Pakde… Kalo hanya slogan2 semata ntar juga redup lagi semangatnya.. Seyognyanya memang mulai dari menjaga keamanan diri sendiri dan lingkungan sendiri..

    Betul lingkaran kita harus aman dulu

  4. Leyla hana says:

    Betul, Pakde. dengan kepedulian masyarakat sekitar, terorisme dapat dicegah.

    Lapor cepat ya

  5. retno says:

    Masyarakat kita mudah lupa pakde….

    Hooh, entar ramai lagi kalau ada peristiwa yang lain

  6. Susindra says:

    Saya selalu sepakat dengan Pakde, bukan sekadar menghormati, tetapi karena pasti benar.
    Salam hangat dari Jepara, Pakde

    Terima kasih
    Katakan kebenaran walau pahit

  7. Syahid Ulhaq says:

    Iya juga, apakah masih berlaku nginap di suatu kos atau rumah wajib lapor pak RT? Pada dasarnya langsung nginep aja padahal jadi terkadang malas.

    Mungkin masih ada RT yang memberlakukan hal tersebut

  8. semoga tidak salah kaprah atau hanya sebatas slogan saja ya pakdhe..

    Iya, jangan hanya reaksi sesaat

  9. SSSyahroonix says:

    kalimat ‘kami tidak takut’ mulai banyak terdengar sejak insiden terorisme di Sarinah terjadi, betul tidak sih pak?

    Betul sekali

  10. Ila Rizky says:

    iya, pakdhe. kata kami tidak takut bisa jadi negatif kalau bentuknya ngajak massa untuk keroyokan hehe.
    Malah ngrusak

  11. “Kami tidak takut,” ini kalimat yang ditakuti para debt collector pakde 🙂 karena ditagih utang pun ga peduli lagi

    Yang punya hutang malah galak ya

  12. Hari Genseti says:

    ” ‘Kami tidak takut’ hendaknya bukan hanya ramai di media sosial semata.” Sepakat mas, gerakan-gerakan seperti ini semoga tidak hanya ramai di dunia maya tapi spiritnya juga sama dengan gerakan aksi nyatanya. 😀

    Betul. Semangat harus disertai aksi nyata

Leave a comment