Teks

Malu-malu Tumpeng

Salah satu kebiasaan di kampung saya yang masih eksis sampai kini dan insha Allah sampai nanti adalah tumpengan. Menghidangkan nasi tumpeng untuk dikepung dan dinikmati ramai-ramai muncul dalam berbagai acara. Akan mulai tanam padi, akan panen, membangun rumah, boyongan, membakar bata atau genting, khitanan, mantenan, pasti ada tumpeng. Bayi yang baru lahir sudah disambut tumpeng. Mulai lahir, aqiqah, sepasar, selapan, dan tujuh bulanan masih diiringi tumpengan. Demikian juga pada sebuah kematian. tumpeng juga ada di sana, berkali-kali. Artikel selengkapnya

Karikatur Saya di Majalah Dinding DSSC India

Topik ke-10 One Day One Post yang dilansir oleh Mbak Ani Berta selaku shohibul ODOP membuat saya klimpungan. Beliau rupanya belum tahu jika pensiunan jenderal awet ngganteng ini jebolan STM jurusan mesin. Murid yang 99 % cowok sangar mana mau mikir yang manis-manis gitu. Kalau mbubut, menggergaji, ngebor, dan pekerjaan kasar sih kami jabani. Ada sih pelajaran menggambar tetapi ya menggambar tehnik yang dimulai dengan hitung-menghitung gitu. Artikel selengkapnya

Hari Libur Enaknya Sarapan Bubur

Saya kenal bubur Manado sekitar tahun 1979-an waktu saya bertugas di Balikpapan. Suatu hari, nggak ada hujan dan nggak ada angin isteri saya membuat sarapan yang lain daripada yang lain. “Hari Minggu sarapannya ganti ya. Jangan nasi goreng saja,” katanya sambil menghidangkan masakan sepanci yang masih ngepul. Melihat makanan yang mirip bubur tapi kok ada sayuran njrawut-njrawut, labu kuning, dan ceker ayam menjongat (duh apa ya menjongat itu) saya nggumun. ” Ini namanya bubur Manado. Uenak untuk sarapan,” jelas isteri saya. Setelah saya cicipi ternyata memang enak tenan. Tapi apa ya nendang sampai siang. “Wah cepat lapar donk kalau sarapan bubur.” Artikel selengkapnya