Teks

Cara Mendekatkan Frequensi Orangtua dan Anaknya

“Kamu kenal buku ini, Kukila?”

“Tahu. Itu kan buku doa yang selalu Ibu bawa.”

“Kamu tahu foto siapa ini?”

“Itu fotoku waktu kecil, Ibu.”

“Kukila, foto ini saya letakkan di dalam buku doa karena saya sangat menyintaimu. Sedang foto kakak-kakakmu tidak saya simpan di buku ini.”

“Tapi Ibu telah bertindak tidak adil kepada saya.”

“Kukila, semua itu saya lakukan agar kamu selalu tegar dalam menghadapi hidup ini. Gopi memang menantu yang baik. Tetapi ada suatu celah dalam hubungan Gopi dan suaminya. Kamu terlalu memanjakan Aahem, anakmu, sehingga kamu kurang memperhatikan kekurangan mereka.”

***

Dialog antara Kukila dan ibunya terjadi setelah Kukila memprotes sikap ibunya yang memilih Rashi dalam sebuah kompetisi untuk memenangkan sebuah benda berharga milik neneknya. Kukila menduga benda berharga yang tersimpan dalam peti milik ibunya akan diberikan kepada Gopi. Ternyata sang ibu memilih Rashi sebagai pewaris patung dewa tersebut.

Kukila bahkan menuduh ibunya tak sayang kepadanya karena menganggap dirinya kurang cantik dan berkulit hitam. Sementara saudara-saudara Kukila berkulit putih. Sang ibu menjelaskan panjang lebar yang menyatakan justeru dirinya sangat menyintai Kukila.

Frekuensi antara orangtua kadang tidak sama dengan anaknya. Hal ini menyebabkan hubungan antara keduanya menjadi sering diselimuti kesalah-fahaman. Kurang tuned ini, kata anak-anak muda.

Saya ambil contoh diri saya sendiri. Ketika akan masuk SMP saya minta dibelikan sepeda jengki yang kala itu sedang digandrungi oleh remaja. Sepeda cekli dengan warna cat ngejreng itu pasti bisa membuat saya menjadi gaya. Tetapi Emak justeru membelikan sepeda biasa yang berjenis kelamin ‘wedok.’ Ternyata Emak mempunyai alasan lain. “Kalau saya belikan sepeda jengki nanti bapakmu nggak bisa pinjam,” begitu Emak menjelaskan.

Perbedaan frekuensi terjadi lagi saat saya masuk STM di Surabaya. Saya sebenarnya ingin tinggal di asrama pelajar yang telah disiapkan oleh sekolah. Alasan saya tentu agar saya belajar bersama teman-teman yang tinggal di asrama. Ternyata Emak mengantar saya ke rumah seorang famili dan saya harus tinggal di situ. “Kalau tinggal di asrama nanti nggak ada yang ngawasi. Kalau kamu sakit siapa yang ngurus.” Begitu pertimbangan Emak yang selalu memperhatikan anak tunggalnya ini.

Lain halnya dengan nenek saya. Beliau menganjurkan agar saya dan isteri tidak sering-sering membeli ‘gombal’ alias pakaian. “Kalau punya uang jangan beli gombal saja. Lebih baik belikan perhiasan Emas karena mudah menjualnya jika sewaktu-waktu memerlukan uang.” Nenek memang ciamik dalam mengelola uang. Jika beliau saya beri uang maka uang itu disimpan dengan baik. Kadang dibelikan bata. Tahu-tahu beliau sudah bisa menambah lagi kamar rumahnya.

Sering terjadi perbedaan pendapat jika orangtua melarang ini-itu kepada anaknya. Penyebabnya ya itu tadi, ketidaksamaan frekuensi. Bagi orangtua, membeli handphone lebih diutamakan sebagai alat komunikasi. Apapun bentuknya yang penting adalah fungsinya, bukan gengsinya.

Sementara anak-anak membeli telepon seluler untuk berbagai keperluan. Kaum remaja menyukai HP yang bukan hanya untuk menelpon dan SMS tetapi ingin menggunakan telepon genggam itu untuk main game, main internet, berfoto ria, dan lain sebagainya. “kalau HP bagus kan gaya,” begitu pikirnya.

Pola asuh, asih, dan asah zaman sekarang sepertinya berbeda dengan sebelumnya. Karena berbagai keadaan dan pengaruh, anak-anak kurang menyukai sikap orangtua yang dianggap otoriter dan mau menang sendiri. Ayah dan atau ibu tak bisa lagi memaksakan kehendaknya dengan mengatakan: “Pokoke kamu harus menurut apa kata orang tua. Tak ada orangtua yang menjerumuskan anak-anaknya. Ayah dan ibu ingin kamu hidup bahagia,” begitu kilah orangtua.

Menyamakan frekuensi memang agak sulit. Yang paling mungkin dilakukan adalah mendekatkannya. Jika gap nya terlalu lebar maka kemungkin terjadi friksi antara orangtua dan anak akan selalu ada. Di sinilah komunikasi yang intens diperlukan. Kedua belah dituntut keikhlasannya untuk mendengarkan.

“Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, Karena mereka hidup bukan di jamanmu,” pesan Ali bin Abi Thalib Radiallahu anhu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

2 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. mantap, artikel kayak gini nih yang harusnya dibaca oleh orang tua, biar nantinya hubungan anak dengan orang tua bisa langgeng, soalnya jaman sekarang miris kalo liat hubungan anak dan ortu

    Yang muda kadang suka brontak

  2. Keke Naima says:

    kuncinya di komunikasi ya, Pakde ๐Ÿ™‚

    Betul, salah komunikasi bisa lempar-lemparan bola

Leave a comment