Paket Buku Zaman Dulu

Paket buku kelas VI SD

Paket buku kelas VI SD

.

Paket buku zaman saya sekolah dulu sepertinya tidak ada yang saya dapatkan dari senior. Saya juga tidak pernah memberikan secara turun temurun buku yang saya miliki. Bukan karena saya dalam kondisi elit (ekonomi sulit) atau pelit tetapi keadaan saat itu memang berbeda dengan era sekarang. Ini juga ada kaitannya dengan sistim pendidikan yang berlaku dari masa ke masa. Perkembangan zaman biasanya diikuti perubahan sistim pendidikan, sedikit atau banyak.

Ketika saya duduk di bangku Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar) saya tidak menerima paket buku dari sekolah. Saya (dhi. orangtua) juga tak membelikan paket buku di toko buku. Mengapa? Ya zaman itu memang belum ada paket buku. Aneka buku pelajaran atau buku bacaan memang tersedia tetapi tidak dibagikan kepada kami. Buku itu disimpan di almari. Jika murid ingin membaca buku maka bisa mengambil langsung di almari lalu membacanya saat istirahat. Jika ada guru yang akan menggunakan buku tersebut untuk pelajaran tertentu barulah beliau membagikan buku referensi. Usia pelajaran langsung dikumpulkan dan disimpan di almari lagi.

Waktu itu SD kami lebih banyak mencatat penjelasan guru. Kadang guru mendiktekan materi pelajaran atau menulis di papan tulis. Kami menyalinnya di buku tulis. Pada saat pelajaran membaca kami juga dipinjami buku yang diambil dari almari. Kala itu SD kami belum mempunyai ruang perpustakaan.

Kondisinya agak berbeda setelah saya masuk SMP. Pada hari pertama masuk sekolah kami sudah diberikan paket buku. Saya ingat, paket buku yang jumlahnya cukup banyak tersebut saya bonceng di sepeda onthel. Buku referensi sebagian diproduksi oleh sekolah. Bentuknya bukan buku cetak tetapi hanya stensilan. Seingat saya ada satu buku cetakan yaitu buku Bahasa Inggris, judulnya Student Book. Nah sebelum mendapatkan buku ini saya meminjam buku dari kakak kelas yang rumahnya tak jauh dari rumah saya. Buku bahasa Inggris pinjaman itu saya kembalikan setelah saya mendapatkan pembagian itu dari sekolah.

Baik buku cetak maupun buku stensilan tersebut tidak ada yang saya turunkan kepada orang lain. Maklum saya anak tunggal, kerabatpun tidak ada yang sekolah di SMP tempat saya belajar. Alhasil paket buku tersebut hanya teronggok di almari sampai saya lulus dari SMP. Saya tidak ingat lagi pada kemana buku-buku tersebut berada.

Dari SMP I Jombang saya melanjutkan sekolah di STM I Surabaya. Buku paket juga idem dito. Saya tak pernah menerima paket buku dari sekolah. Dengan demikian maka juga tak ada buku yang saya turunkan kepada sahabat maupun kerabat.

Zaman berganti, musim bertukar, sistim pendidikan semakin baik. Paket buku semakin banyak dan beraneka ragam. Saya tidak tahu pasti apakah paket buku yang jumlahnya cukup banyak itu juga bisa diturunkan kepada kerabat, sahabat, atau yuniornya. Mungkin tiap-tiap murid harus memiliki paket buku yang baru. Yang jelas, paket buku itu sangat menguntungkan para murid karena memiliki referensi yang sama.

Saya ingin juga menceriterakan sedikit tentang paket buku di lingkungan pendidikan militer.

.

Buku referensi

Paket buku pendidikan militer di USA

.

Ketika saya mengikuti pendidikan di Akabri Darat, dan pendidikan-pendidikan militer lain, di dalam maupun di luar negeri memang mendapatkan paket buku. Setelah pendidikan selesai paket buku itu kami bawa dan simpan di rumah masing-masing. Tidak diturunkan kepada orang lain. Untuk melengkapi referensi, kadang saya membeli buku di luar ksatrian. Contohnya buku KUHP, Delik-delik Yang Tersebar di Luar KUHP, buku UULAJR, dan lain-lain saya beli ketika mengikuti Kursus Dasar Kecabangan Perwira Polisi Militer. Buku tersebut bisa saya pakai ketika berdinas di lingkungan Polisi Militer.

Khusus pendidikan di luar negeri, ada buku referensi yang boleh dimiliki dan ada pula yang harus kami kembalikan ke lembaga pendidikan sebelum kembali ke tanah air. Ini saya alami sendiri ketika mengikuti pendidikan militer di Amerika Serikat dan India.

Hanya itu yang bisa saya kisahkan tentang paket buku. Teman-teman blogger yang hidup di abad 21 barangkali memiliki kisah paket buku yang lebih lengkap.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

7 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Rahmah says:

    Wah itu buku paket militernya covernya lebih sederhana ya, Pakde.

    Iya, mereka lebih mementingkan konten

  2. felyina says:

    Halo, Dhe. Ish, buku paket muliternya USA cakep ya.
    Kalo saya, selama SD nggak pernah waris-warisan buku paket. Saya anak sulung, jadi nggak ada yang mewariskan saya buku. dan karena buku paketnya sudah dedel duel duluan sebelum tahun ajaran berakhir, jadi buku paket saya juga tidak diwariskan.

    Baru deh semasa SMP dan SMA mulai timbul ‘budaya’ waris-warisan buku. Seneng banget deh kalo dapet warisan buku dari kakak kelas yang rajin. Semua poin penting di buku sudah digarisbawahi pake bolpen merah, dan latihan di buku sudah ditulisi jawaban dengan rapi. Hihihihi….

    Buku sekarang covernya menarik

  3. D I J A says:

    kalo sekarang pake kurikulum2013 (K13) eyang…
    bukunya dijadikan satu, per tema.
    jadi yang ada tema 1 , tema 2, tema 3 dan seterusnya.

    semua pelajaran dan soal soal nya sudah jadi satu di situ, campur.
    enak kan??

    Iya, jaman eyang dulu nggak ada

  4. Agung Rangga says:

    Jadi kangen punya buku paket gara-gara baca tulisannya pakdhe ini. (eh, yang benar “buku paket” atau “paket buku” ya?)
    Soalnya di kuliah saya gak ada matkul menggunakan buku paket ini, karena rata-rata dosen langsung memberikan materi lewat slideshow power point. Tapi mahasiswa bisa baca buku-buku teori di perpustakaan kampus sih (itu kalau rajin~). 😀

    Paket buku lebih pas

  5. rametech says:

    Dan dulu tas selalu penuh dengan buku paket yang di kelas jarang dibaca, hehe

    Waktu SD nggak pernah bawa tas

  6. buke paket yang lecek karena kena ujan, dan bukan karena lecek kebanyakan dibaca

    Iya, kadang dilempar sana-sini

  7. Dengan segala keterbatasan yang ada, generasi sepuh itu biasanya lebih tangguh karena terbiasa hidup apa adanya ya, pakdhe. Beda dengan sekarang, apa-apa mudah, tinggal klak klik klak klik, jika teladannya tidak kuat, anak-anak mudah tumbuh jadi generasi yang lemah 🙁

    Ini komen buku paket kenapa sampai kesini ya? 😀

    Jaman dulu masih serba terbatas je

Leave a comment