Horornya Tak Seberapa Tapi Kagetnya Itu Bro

Tak ada horor di TPURumah saya lokasinya tak jauh dari kuburan. Jika ada penduduk yang meninggal dunia saya bisa melihat kegiatan pemakaman tersebut. Kadang saya mengintip dari jendela manakala ada iring-iringan jenazah melewati jalan di samping rumah. Keranda yang diusung, suara doa, dan alat perlengkapan yang dibawa para pelayat tampak dengan jelas. Kala itu masih ada petugas pelayat yang menyebar beras kuning, koin, dan bunga di sepanjang rute perjalananan menuju makam.

Pada siang hari suasana TPU sih terang benderang. Segala aktivitas tampak dengan jelas.Begitu pada malam hari suasana menjadi gelap gulita. Maklum waktu itu listrik belum masuk desa. Alhasil, berjalan atau bersepeda di tengah kegelapan melalui jalan dekat TPU tersebut mengundang rasa takut. Itu terjadi jika saya dan beberapa teman pulang dari nonton pertunjuk ludruk atau wayang kulit.

Saya, Imam Syafii, Sunyoto, adalah trio penggemar kesenian ludruk. Jika ceritanya menarik kami bisa pulang sekitar jam 3-4 pagi. Ketika mendekati pemakaman salah satu pasti akan bertanya: “Mau jalan atau lari?”  Jika tak ada rombongan di depan atau belakang kami maka aba-aba :”Lari..satu…dua…tiga!” Pada hitungan ketiga kami langsung lepas sandal, cincing sarung, dan ngacir cepat sekali. Kami baru berhenti setelah berada agak jauh dari pemakaman. Hal itu juga kami lakukan jika melintasi kuburan yang ada di desa tetangga.

Apa sebenarnya yang kami takutkan? Hantu? terus terang iya. Maklum cerita tentang hantu berbagai versi selalu muncul. Ada yang berbentuk wewe gombel, hantu wanita bertetek besar. Hantu tengkorak, hantu glundung-pringis yang katanya berupa tengkorang kepala yang menggelundung lalu tertawa mringis, dan lain sebagainya. Namanya juga cerita, belum tahu kebenarannya. Wong saya sendiri belum pernah menemuinya. Tapi rasa horor itu pasti ada dan selalu datang menggoda.

Alkisah, suatu hari menjelang fajar, seorang penjual tempe mendengar suara wanita yang datangnya dari arah kuburan. “Tempe…..tempe!” Laki-laki yang berprofesi sebagai tempe seller itu tak tergoda imannya. Dia tak peduli rezeki yang bakal diraihnya. Dengan sekuat tenaga digenjotlah sepedanya. Tetangga saya, yang setiap pagi buta rajin memetik dan mengumpulkan bunga kamboja dikuburan nggundel. “Tukang tempe edan. Mau dibeli dagangannya kok malah minggat,” ujarnya sambil meratakan waajahnya yang berbedak tebal. si Emak S, melanjutkan mengumpulkan bunga kamboja untuk dijual kepada tukang pul. “Sekilo bunga kamboja kering laku 30 ribu,” katanya. Memetik bunga kamboja pada pagi buta sudah menjadi kegiatan rutin baginya. Tapi bedak putih nan tebal itu yang mengundang horor, Mak.

.

Misteri bunga kamboja

Pencari bunga kamboja di TPU

.

Sekarang beralih ke setting lain.

Tahun 1971 saya mengikuti latihan Pra Yudha di luar kampus Akabri. Masih di kawasan kabupaten Magelang. Salah satu materi latihan adalah caraka malam. Kami dilatih untuk menyampaikan sebuah berita pendek kepada atasan. Berita itu harus dihafalkan dan disampaikan persis sebagaimana bunyi pesan tersebut. Karena latihan ini dilaksanakan pada malam hari maka lazim disebut Jurit Malam.

Satu persatu, dengan interval waktu tertentu peserta latihan dilepas. Kami yang berpakaian tempur lari-jalan mengikuti arah panah yang dipasang di sepanjang rute. Suasana medan latihan agak gelap-gelap sedap. Kadang timbul pikiran khawatir pada diri saya. “Bagaimana kalau pelari depan atau penduduk kampung ada yang memutar tanda panah ya.” Saya dan teman di belakangnya barangkali akan nyasar ke arah yang salah. Whuiiik…pikiran horor itu cepat-cepat saya hilangkan.

Di beberapa titik sepertinya ada pengawas latihan yang bersembunyi.”Hayo cepat lagi larinya, hati-hati, Taruna,” begitu aba-abanya yang tiba-tiba mengejutkan saya. Sambil ngos-ngosan dan tetap menghafalkan isi berita saya terus lari, diselingi jalan cepat. Tak lupa berdoa nderimil. “Cepat sampai di finish kan cepat istirahat,”begitu pikir saya.

Walaupun dulu suka lari kalau melintasi kuburan, tapi malam itu saya nggak takut blas. Yang saya khawatirkan jika saya kepleset lalu nyungsep di sawah atau got. Maklum sisi kiri-kanan rute kadang tidak begitu jelas.

Sedang asyik-asyiknya lari tiba-tiba terdengar suara ‘krosak.’ Langkah saya terhenti. Di depan ada benda jatuh. Eiiit…bentuknya mirip …jenazah yang masih dibungkus kain kafan. Saya ngelus dada sambil istighfar. Takut sih tidak tapi suara dan luncuran bendanya yang tiba-tiba itu yang membuat kaget. Saya yakin itu ulah pelatih. Saya langsung melanjutkan perjalanan lagi.

.

Kisah horor

Nggak takut tapi kaget

.

Setelah berlari beberapa puluh meter tercium bau kemenyan. Terus terang saya kurang suka dengan bau ini. Saat latihan ‘pancaindera’ juga bau seperti ini yang tercium. Dan….krosak…srooooooot….kini benda mirip tengkorak menghadang saya. Saya kaget lagi, tapi nggak sampai berteriak. Setelah berhenti sejenak lalu saya melanjutkan perjalanan sampai garis finis. Dengan nafas masih ngos-ngosan saya sampaikan berita:”Hancurkan jembatan yang di Krasak.”

Mission accomplishment.

Bukannya sombong, saya tidak terlalu takut dengan hantu. Saya justeru lebih takut dengan manusia. Mereka bisa mencopet, mencuri, merampok, menganiaya, dan bahkan membunuh siapa saja.

Rasa horor pasti ada. Coba bayangkan, ketika sedang asyik foto bersama tiba-tiba saja saya kemudian sadar bahwa yang berdiri di samping saya ternyata penampakan lain. Ngeri khaaaaaan.

.

Penampakan lain

Siapa mereka ya?

.

Alhamdulillah, hingga kini saya tidak pernah melihat hantu atau merasakan yang horor-horor. Kalau nonton film memang selalu kaget. Kucing yang meloncat sebenarnya hal yang biasa saja. Yang membuat kaget justeru efek suara atau musik yang mengiringnya.

~Artikel hari ke-13 ( 9 April 2016) One Day One Post~




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

19 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Dian Kelana says:

    Kalau ingat masa kecil dengan cerita hantunya, memang nggak ada habisnya pak De, dan kini kita hanya bisa tersenyum bila mengenangnya. Padahal pada waktu kejadiannya, keringat ngucur di seluruh badan karena lari pontang panting ketakutan… hehehe

    Pulang nonton film pada malam hari kadang saya memejamkan mata kalau lewat kuburan. Padahal ada bapak yang memboncengkan saya hahahaha

  2. damarojat says:

    iya Pakde. sebetulnya yang bikin serem itu efek suara. kalau nonton film agak serem gitu saya matikan suaranya. kalau film serem betulan saya ga berani nonton. hehe…

    Hooh kali ya. Kalau film serem kecilkan saja volume TVnya

  3. Evi says:

    Kalau aku yang dikasih benda seperti pocong itu, tiba-tiba dan malam pulak, kayaknya langsung almarhum Pakde..Amita-amita..hehehe..Untung gak jadi ABRI

    Masa sih, gagahnya kayak gitu kok penakut

  4. Kalo aku yang jadi pakdhe bisa semaput saking kagetnya hehehe.
    Btw kok serem banget fotonya yang pencari bunga kamboja itu pakdhe hiiiyy.

    Rumah beliau memang mepet kuburan Mbak

  5. Kuburan memang identik dengan hantu ya pakde, banyak orang takut melewati kuburan, termasuk saya hehe. Yang penting baca doa aja 🙂

    Dulu waktu SMP pas persami dan diminta jalan satu-satu ke kuburan, saya menunggu teman yang dibelakang kemudian jalan bersama-sama 🙂

    Katanya memang gudangnya hantu

  6. Tatit Ujiani says:

    Saya juga ngalami ditakut-tkuti kakak kelas Pakdhe pas jurit malam Pramuka. Ada yang bikin pocong-pocongan. La kami tidak takut, malah menahan tawa. Tapi ada juga teman kami yang sampai terkencing kencing di celana 🙂

  7. evrinasp says:

    Itu semacam sasak buat meninju ya pak dhe sengaja dipasang untuk nakut-nakutin kayanya. Untung pak dhe gak takut

    Iya, mosok hantu betulan ditaleni hahaha

  8. wylvera says:

    Ya ampuuun, Pakde. Aku bacanya sambil nyengir-nyengir merinding. Lucu tapi kok tetap aja horor sih. *ketauan penakutnya aku ini* :p

    Hahahaha….mana di kampung gelap banget kala itu
    Listrik belum masuk desa

  9. Dulu dikerjain seperti ini waktu ikut pramuka Dhe, rasanya lemes tapi ga sampai pingsan sich 🙂

    OOT : pakdhe kapan bikin acara kayak dulu? Aduk yang postingnya sampai jam 5 sore itu lhoooo. *Habis baca postingan lama*

    Sebentar lagi deh

  10. ade anita says:

    Iya pakde..sama…aku juga lebih takut dengan manusia drpd dengan hantu. Krn hantu dibaca ayat Quran lari tapi manusia dibacain ayat quran malah nodong duit

    Hahahaha…lha itu dia. Hantu hanya menampakkkan diri lalulenyap. Manusia bisa hutang segala je

  11. Yan NIW says:

    Cerita teman saya yg pernah ikut latihan MENWA di DODIKIF Gombong, klo pas jurit malam itu justru bukan takut horornya, tapi takut kelupaan pesan yang harus disampaikan ke atasan.

    Dan critanya kayak yg Pak Dhe tulis … tetiba ada “pocong” nggantung di pohon. Katanya, klo prajurit yang “nakal” itu pocong atau tengkorak dihantam pake popor senjata.

    Saya kan bukan prajurit nakal Mas hahahaha

  12. Eko Nurhuda says:

    Saya belum pernah ketemu makhluk seperti itu, Pakde. Dan mudah-mudahan kalau tidak ada perlunya jangan ketemulah.

    Konon sih kata Bapak-Ibu saya waktu bayi mungil ditunggui makhluk astral berupa simbah-simbah wanita selama beberapa lama. Lupa namanya. Begitu Bapak dapat mimpi dan datang ke kuburan simbah itu dan bersih-bersih, barulah saya nggak ditungguin lagi.

    Saya merinding lho nulis komen ini. Hihihihi…

    hahahaha..mbayangin penunggunya ya

  13. Ardiands says:

    Wah saya jangan sampai ketemu mahluk halus seperti itu pak de..Bakalan pingsan nie kalo ketemu. Tapi seringnya sie cuma bayangan putih seklebat aja..tapi gitu aja udah merinding..heheh

    Betul, jadi clingak-clunguk ya

  14. Kagetnya itu lo yang kadang bikin nggak ilang berhari-hari… waktu jaman sekolah sering tuh pas pramuka dikaget2in gitu 😀

    Iya, kadang bisa berteriak je

  15. Nunu Halimi says:

    itu pesan bapak saya juga pakde, ngga usah takut sama setan, karena ada yang lebih menakutkan yaitu manusia yang sifatnya kayak setan.

    Betul. Manusia kadang lebh sadis je

  16. Salam kenal pakde:)
    Saya merhatiin foto yang tukang bunga kamboja, kok ga mudeng ya?
    Tapi ga berani liat lama2, takut beneran ada penampakan :p

    hahahaha…memang gak begitu jelas.
    Dia pakai alat bambu panjang untuk menggaet bunga kamboja yang agak tinggi

  17. Saya semalem mimpi ngelawan setan, pakdhe. Saya pegang tangan si setan sambil baca basmalah eh tangannya meleleh. Saya ternyata berani kalo di mimpi 😀
    Tapi saya khawatir kok ya mimpi ketemu setan…

    Kadang gemetaran betul ya rasanya padahal mimpi
    Kalau bangun jadi lega

  18. Inayah says:

    Hantu hantuan ini sering banget pas jurit malam acara pramuka atau Osis wkwkwk lama lama tau kalau itu cuma ulah panitia

    Iya, kuaget pwol kalau jatuhnya mendadak

  19. Wekeke…kalo saya jadi si tempe seller, kayaknya bakal mabur juga, Pakdhe 😀

    Santai saja…nanti malah nggak bisa turun

Leave a comment