Malu-malu Tumpeng

Salah satu kebiasaan di kampung saya yang masih eksis sampai kini dan insha Allah sampai nanti adalah tumpengan. Menghidangkan nasi tumpeng untuk dikepung dan dinikmati ramai-ramai muncul dalam berbagai acara. Akan mulai tanam padi, akan panen, membangun rumah, boyongan, membakar bata atau genting, khitanan, mantenan, pasti ada tumpeng. Bayi yang baru lahir sudah disambut tumpeng. Mulai lahir, aqiqah, sepasar, selapan, dan tujuh bulanan masih diiringi tumpengan. Demikian juga pada sebuah kematian. tumpeng juga ada di sana, berkali-kali.

Tumpengan juga merupakan wujud rasa syukur kepada Allah Subhana wa Ta’ala atas nikmatNya yang tiada tara. Tumpeng juga rupa-rupa warnanya, bukan hanya lima loch. Ada tumpengan dengan mengepung jenang (bubur) abang (merah), tumpeng jajan pasar, tumpeng lontong-ketupat, tumpeng nasi kuning, dan lain sebagainya. Tapi belum ada tumpeng berisi gadget yang jika dibuka tutupnya tampak handphone, tab, atau modem. Lauknya pulsa atau card reader hahahaha.

.Tradisi tumpengan di kampung saya

Tumpengan setelah memasang bleketepe

menjelang pernikahan anak saya

.

Khususon di kampung saya, pengeluaran tumpeng dilakukan dengan aneka cara dan gaya. Ada tumpeng yang dikepung di rumah shohibul hajat ada yang yang di bawa ke luar rumah. Menjelang kenaikan kelas kami para murid SD membawa tumpeng ke sekolah. Pada acara bersih desa tumpeng di bawa ke suatu tempat yang dianggap cikal bakal lahirnya desa. Selain itu tumpeng juga di bawa ke sawah menjelang panen tiba. Saya juga beberapa kali ikut ke sawah sewaktu masih kecil. Asyik loch, pagi buta sudah menyusuri pematang menuju sawah Emak. Tapi kebiasaan itu sudah dihilangkan. Sebagai gantinya tumpeng disajikan di musala.

Tumpengan di musala juga banyak macamnya. Ada acara kirim doa untuk para leluhur, sesepuh-pinisepuh, dan kerabat. Waktunya biasanya dipilih menjelang Jum’at Legi. Tetangga juga ada yang kirim tumpeng ke musala jika anaknya baru lulus ujian, mendapat pekerjaan, naik pangkat, dan keperluan yang lain. Pada hari besar Islam dan bulan puasa Ramadhan sampai menjelang Idul Fitri, tumpeng bertaburan di musala. Sebutannya juga macam-macam. Megengan, malem pitu, malam songo, dan tumpeng riyoyo.  Dari tumpengan di musala inilah kisah memalukan yang saya alami dimulai. Hala…halah….kelihatan kalau sengaja memperpanjang skenario.

Hari Kamis menjelang Jum’at Legi. Bisik-bisik tetangga yang klasifikasi sumber beritanya A, dan tingkat kebenaran beritanya 2 mengatakan bahwa akan ada 2 tumpeng di musala. Yang satu tumpeng untuk kirim doa dan yang satunya tumpeng syukuran atas keluarga tetangga yang baru pulang dari rumah sakit. Saya dan beberapa teman sebaya hepi banget. “Makan besar nanti malam,” kata S, sahabat sekelas di SD.

Benar juga, usai shalat maghrib sudah tersedia dua tumpeng. Wow..mantap nian. Jamaah cukup banyak, termasuk kami anak-anak kecil yang shalatnya masih diselipi cekikikan. Saya, dan teman-teman sudah lirik-lirikan sambil tersenyum, tanda hepi.

Setelah shohibul tumpeng mengutarakan maksudnya maka imam musala memimpin doa. Para jamaah mengamini secara teratur sesuai irama yang lazim. Terus terang saya agak gagal fokus dengan bacaan doa pak imam. Saya asyik meramal isi kedua tumpeng. Tiba-tiba teman saya S mengeraskan suara ‘amin ya rabbal ‘alamiin’ Bak dikomando oleh Jenderal Patton, saya segera membuka tutup tumpeng yang ada di depan saya. Blaaaaaak…..tampak ayam panggang mekangkang, dikelilingi lauk lain bak penari latar. Sungguh menggiurkan dan merangsang sukma. Rasanya tak sabar untuk segera menyerbunya.

.

tumpeng ayam

Ayam panggang mekangkang merangsang sukma

.

Lho, tunggu dulu. Imam kok masih berdoa. Jamaah lain termasuk teman-teman sebaya juga masih bilang amin..amin…amin. Saya menengok Bapak yang tampak mendelik melihat polah-tingkah anaknya. Ternyata doa belum selesai sodara-sodara. Dua tumpeng beda maksud itu ternyata membuat pak imam berdoa agak panjang. Bagaikan monyet kena tulup saya segera mengangkat kedua tangan ikut mengamini doa pak imam. Saya nggak berani menatap tumpeng lagi.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina adzabannar.” Nah, doa ini yang tadi tidak saya dengar apakah sudah dibaca imam atau belum. Saya keburu bernafsu membuka tutup tumpeng. Wedeh.

Setelah acara doa selesai, teman S tampak menahan tawa. Anehnya, Pak Wo Jik yang memimpin doa serta para jamaah yang lain tidak ada yang tertawa. Entah ketakutan kalau saya menangis atau menganggap perbuatan saya itu tergolong bukan pelanggaran berat. Hahahaha…

Berarti saya aman donk. Aman dari  Hongkong. Rupanya Bapak langsung share this kind of information kepada Emak. “Kayak nggak pernah makan enak saja. Tuh di dapur masih saya ngengehi.” Emak langsung menggiring anak gantengnya ke ruang makan. Wow..rupanya Emak menyembelih dua ekor ayam. Yang satu untuk tumpeng dan yang satu untuk makan keluarga di rumah. Emak memang ngetop.

Pernahkah sahabat melakukan tindakan memalukan? Silakan share. Jangan malu-malu ya.

~Artikel hari ke-11 ( 7 April 2016) One Day One Post~




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

13 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Ade Anita says:

    Gragas bukan sih pakde istilahnya? Kayaknya dulu pernah ada yg komen itu ke aku liat kelakuanku yg mirip pakde

    Nggagas itu konotasinya makan segala mau komplikasi dengan rakus hahahaha

  2. Gia Ghaliyah says:

    Ayamnya menggiurkaaaaan~

    Pwol

  3. Pesona Abdul says:

    ayamnya main mata ma ane tuhh, mungkin dia pengen ane makan, paketin aja ke ane daripada ayam bakarnya meriang Kan? hehe

    Oye

  4. hahaha pakdhe, maklumlah kan masih kecil ya 🙂

    Tapi ya tetap malu, dikira nggragas

  5. ayamnya bikin ngiler pakde

    Tenan, apalagi jaman masih susah hahaha

  6. Tatang Tox says:

    Lha wong ayamnya aja begitu sexinya. Gimana gak bikin orang hilang konsentrasi… Hihihi.. 😆

    Doa jadi nggak khusu hahaha

  7. Arina says:

    Hihihi. enyaaak.. makan kenyang ya Pakdhe.

    Oia, acara adat tumpengannya sama kaya di kampung saya di Wonosobo. Tiap mau panen, mau bangun rumah, nikahan, selamat desa, dll selalu ada tumpeng 🙂

    Iya, adat Jawa yang masih lestari

  8. sri rahayu says:

    Hihihi….jadi inget zaman masih kecil sampai ada lagunya satu nampan dibagi empat. …nice sharing pakdhe

    Hahahaha. masa kecil yang berwarna-warni

  9. Pak de Ayamnya kirim ke Bandung satu hehe..biar atiku tak sedih lagi

    Habissss

  10. Ayam panggangnya menantang sekali! Ha..ha…

    Lauk favorit saya

  11. Eko Nurhuda says:

    Kalo soal makan, apalagi makan bersama begini, saya tipe anak yang malu-malu. Jadi sejauh ini nggak pernah malu-maluin. Hehehe…

    Btw, sampai sekarang tradisi itu masih ada ya, Pakde? Termasuk menggunakan musala sebagai pusat kegiatan yg salah satunya mengadakan syukuran itu. Kalau di sini habis salat ya bubar, kadang imamnya belum sampe baca doa aja makmumnya tinggal 4-5 orang saja.

    Masih, di masjid juga ada kok
    Kalau Lebaran malah tumpengan dulu sebelum bubaran

  12. budiono says:

    Pakde, kalo di Suroboyo, Keputih, khususon di perumahan, bikin tumpeng ngene iki trus dicap “bid’ah”. jarene gak onok tuntunane soko kanjeng nabi. Mbuh lah, wong2 ngono iku jumlahe tambah akeh. Nggarai risih dewe, sembarang kalir disalahne

    Ya niatnya diluruskan, bukan sirik-menyirik, tapi syukuran dengan makan-makan.
    Nanti naik haji nggak pakai tenda di Arafah kan ya repot
    Masa pakai tenda juga bidah

  13. wes lah cak wong cingkrangan ngono kui gag sah digape, dijak debat wes diwei hujjah seng pas yo sek ngeyel ae…

    Hooh

Leave a comment