Teks

Sepi Job

Bukan artis, tapi saya sekarang kok sepi job ya. Bukan job mengisi ceramah seputar dunia blogging atau menyanyi di special event misalnya acara sunatan masal. Yang saya maksud dengan job adalah menulis artikel tentang produk dan jasa yang istilah populernya di kalangan blogger adalah job review.Apakah mungkin karena saya terlalu selektif dan juga belagu ya. Sebetulnya tawaran numpang lewat ada, tetapi kurang saya pedulikan. Ini tak ada kaitannya dengan menolak rezeki. Saya merasa kurang sreg dengan bentuk kerjasama dan tentu saja fee yang disodorkan.

Semangkok bakso plus teh hangat memang nikmat. Apalagi jika sempat membungkuskan 9 mangkok untuk anak cucu. Tetapi untuk mendapatkannya apakah saya harus mengorbankan sebuah artikel sepanjang 500 kata? Belum lagi menambahkan link hidup yang permanen sepanjang hayat blog.

Seperti yang sering saya utarakan, menulis artikel bukan hanya sekedar menjejerkan huruf dan karakter belaka. Ada proses merem-melek untuk menempa ide menjadi tulisan yang enak dibaca sekaligus ada manfaatnya untuk sidang pembaca.

Sekalipun job itu hanya copy-paste dari artikel yang sudah disiapkan oleh pemberi job namun tidak berarti saya hanya diam. Pengalaman saya, artikel pemberian itu ternyata ada yang asdi (asal jadi) yang kalimatnya kadang panjang-panjang dengan banyak koma. Tanpa mengurangi rasa hormat, pemberi job kan belum tentu terlatih menulis artikel.

Memasang gambar pun tentu ada  estetikanya, bukan. Apalagi jika saya ingin gambar itu juga bisa digerayangi oleh robot. Sebelum gambar disisipkan dalam artikel ada kewajiban memasang alt text di kolom yang tersedia. Dengan alt text itu maka robot akan mengetahui bahwa dalam tulisan ada gambarnya.

Sepi job tak membuat saya lantas membabi-buta menerima tawaran kerjasama dengan pihak lain. Tanpa mengurangi rasa syukur dan membandingkan jumlah genjotan pedal tukang becak, saya tetap menerapkan standar yang bermartabat untuk setiap postingan saya.

Saya kadang tak mempercayai bahwa pemberi kerjasama termasuk golongan ‘rekanan tidak mampu.’ Itulah sebabnya saya berusaha untuk negosiasi kepada agency atau perorangan yang telah berbaik hati memberi job. Tak bermaksud tamak atau serakah tetapi segi kelayakan dan kepatutan tetap saya kedepankan.

Saya jadi ingat ketika sedang mengikuti suatu kegiatan di sebuah kampus yang berlokasi di Lembang pada tahun 1988. Tukang ojek yang mengantar ke dalam kampus saya kasih Rp. 500. Teman-teman yang bermukim di kampus itu langsung protes: “Jangan ngrusak pasaran donk. Selama ini upah tukang ojek dari jalan raya ke dalam kampus hanya Rp.300.” Kami selaku penghuni tamu selama seminggu akhirnya mengikuti standar mereka.

Kini menulis sponsored post memang satu-satunya kegiatan saya dalam monetize blog. Pemasangan iklan di blog sudah lama saya tinggalkan. Bukan karena tak butuh uang tetapi saya ingin blog yang saya kelola tampak bersih. Apalagi pengunjung blog tampaknya juga semakin enggan untuk klik baner atau tulisan berbau iklan.

Bagaimana dengan sahabat? Masih ramaikah tawaran job yang singgah?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

12 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. felyina says:

    Hm…. STANDARD YANG BERMARTABAT. Akan kucatat dalam otak sya, Dhe. Very nice reminder

  2. Ya, bagaimanapun kita mesti menghargai tulisan (karya) sendiri. Sip, sip, sip.

  3. Inayah says:

    mungkin lagi pasarnya popok sama bedak pak dhe yang gentayangan…ehhehe

  4. intinya yaitu melakukan semua hal yg kita inginkan dengan sempurna

  5. ninda says:

    lagi musimnya produk beauty dan bayi nampaknya sekarang pakdhe 🙂

  6. Masih ramai, Pak.
    Saya ketambahan proyek jadi komandan buzzer pula. Kadang-kadang kliennya minta saya paket combo: ya jadi blogger, ya jadi buzzer juga. Plus minta saya mendatangkan bala tentara blogger lainnya pula.
    Wuih..tambah puyeng saya lihat email box yang centang-centung terus.

  7. Ratna Dewi says:

    Kadang aku juga sepi job, Pakdhe karena memang selektif. Nggak semua job diterima. Insyaallah ada rezeki dari jalan lain. Biasanya kalo pas lagi banyak ya banyak, kadang malah pas butuh justru sepi job.

  8. Good Banget Mastah.. Bukan masalah kuantitas, tapi kita telah merasa memiliki kualitas tinggi, track record besar, jadi ya wajar jika diberikan harga segitu kita remehkan

  9. Indah Nuria says:

    Aku pun begitu pakdhe.. kalau ngg sreg ya ngg mau memaksakan.. kan yang penting ngeblog bikin happy 🙂

    Iya, kalau nggak hepi nanti hati jadi sepi

  10. Ndy Pada says:

    Bener pakde. Selektif menerima tawarab job memang sangat diperlukan. Apakah effortnya sebanding dengan hasil yang diperoleh. Apakah pemberi jobnya UMKM atau brand besar? Itu juga menjadi pertimbangan sebelum deal kerjasama.

  11. infoana says:

    Ya, bagaimana lagi harus saling menghargai sendiri sendiri.

Leave a comment