Sertifikasi Blogger

Perlukah diterbitkan Sertifikasi Blogger

.

Keasyikan saya menonton serial Geet terganggu ketika terdengar suara ketukan pintu beberapa kali disertai uluk salam. Yaela, ngrusuhi me time saja nih orang. Sesiang gini kan manusia seharusnya duduk manis di kantor atau di rumah. Ini malah bertamu.

Saya tertegun. Begitu pintu terbuka saya lihat ada 4 orang tak dikenal dengan dandanan rapi jali. Mereka menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Dengan Pak Cholik ya,?” tanya laki-laki yang berpakaian paling necis.

“Iya, betul,” jawab saya sambil menyalami laki-laki berkumis agak tebal tapi rambut di kepalanya agak kurang. “Dari mana ya Pak, Bu?”

“Kami dari Healthy Internet Lover, sebuah komunitas pencinta internet sehat. Jika berkenan kami mohon waktu sebentar, Pak.” Saya menyilahkan duduk para tamu yang tampaknya bukan penduduk kampung saya. Sikap tanggap-waspada segera saya nyalakan di benak saya. “Jangan-jangan…..,” ah pikiran nakal itu segera saya buang jauh-jauh. Tamu harus saya hormati, itu sebuah sunnah dan etika pergaulan manusia.

Laki-laki berkumis tersebut mengaku bernama Trala. Dengan ramah dan murah senyum dia memperkenalkan satu-persatu rombongannya. “Wanita cantik ini Trili, Pak. Dia adik saya yang aktif di media sosial.” Wanita yang memang berparas ayu ini mengangguk sambil tersenyum.

Tanpa basi-basi saya langsung menanyakan maksud kedatangan mereka. Saya tak ingin tayangan favorit saya serial Archana Mencari Cinta lepas begitu saja setelah tayangan Geet usai.

“Kami bermaksud mengadakan survei tentang kegiatan Pak Cholik yang saya dengar aktif di dunia maya baik sebagai blogger, Facebooker, Twitterer, dan Instagramer.” Trala menjelaskan dengan bahasa yang santun dan fasih. Saya mengangguk-angguk sok bijak.

“Dari data yang berhasil saya kumpulkan dari berbagai sumber, Pak Cholik sudah mulai ngeblog sejak bulan Juli tahun 2009. Berapa blog yang bapak kelola?” Whuik, cakep juga aktivitas Trili dalam hal pulbaket (pengumpulan bahan keterangan) tentang diri saya.

“Sekarang saya mengelola 2 self hosted WordPress blog dan 4 blog gratisan,” jelas saya sambil menyebut satu-persatu nama blog.

“Apakah semua blog Pak Cholik berniche atau dengan topik khusus?”

“Tidak, sebagian besar blog gado-gado, isinya aneka topik.”

“Maaf kalau saya ikut-ikutan memanggil bapak dengan sebutan Pakde. Sebagai pensiunan TNI dengan usia yang tak bisa dibilang muda Pakde sangat aktif ngeblog. Selain itu kiprah Pakde di media sosial juga mencengangkan kami. Apa sebenarnya tujuan Pakde berasyik-masyuk di dunia maya?”

Saya memandang si penanya yang di nametagnya tertulis May Moon. Saya tidak tahu apakah ini nama sebenarnya ataukah nama gaulnya.

“Saya kebetulan banyak waktu dan hobi saya memang menulis. Saya ingin share ilmu dan pengalaman yang saya miliki. Sarana yang saya anggap paling tepat adalah blog dan media sosial. Menurut saya, blog dan media sosial adalah medan latihan yang sangat bagus untuk menulis karena tulisan kita akan langsung dikomentari orang banyak. Jika tulisan saya bermanfaat ini tentu akan bernilai ibadah.” Saya menjawab persis yang selalu saya ungkapkan di blog maupun di media sosial. May Moon mengacungkan jempolnya yang lentik jagung.

Tanya jawab berlanjut dan dilakukan secara bergantian oleh Pak Trala dan kawan-kawan. Saya berusaha menjawab dengan lugas, jujur, akurat, tajam, dan terpercaya. Saya pun memberikan kesempatan ketika mereka minta ijin untuk melihat-lihat blog saya.

“Pertanyaan terakhir. Maaf, apakah Pakde juga memanfaatkan blog dan media sosial untuk alat menambah penghasilan?” Pertanyaan yang diajukan oleh Trili ini sudah saya perkirakan.

“Iya.” Saya kemudian menjelaskan secara singkat cara saya monetize blog. “Walaupun saya monetize blog tetapi saya tak meninggalkan idealisme untuk sharing knowledge and my experience.” Lho, saya kok jadi niru-niru gaya artis yang suka nyelipi kata asing dalam kalimat.

“Kalau begitu Pakde sudah termasuk blogger pro. Semoga sukses Pakde,” ucap Pak Trala. Anggota tim yang lainnya mengamini.

Wawancara yang berlangsung selama hampir satu jam dianggap cukup. Pak Trala mengucapkan terima kasih. Sebelum berpamitan May Moon mengajak foto bareng.

“Sebentar Pak Trala. Bolehkan saya yang ganti mengajukan pertanyaan kepada Bapak dan tim?”

“Of course, certainly, Pakde. Feel free to ask as many questions as Pakde want.” May Moon menyahut dengan antusias.

“Apa sebenarnya tujuan survei ini dan bagaimana tindak lanjutnya?”

“Great. Hasil wawancara dengan Pakde dan nara sumber yang lain ini akan kami kompulir untuk kami olah. Selanjutnya hasil survei ini kami kirimkan kepada pemerintah sebagai bahan masukan untuk ditindaklanjuti.”

Saya agak kaget.

“Lho, kok dikirim kepada pemerintah segala untuk apa?” Mbak Trili tersenyum manis. Wanita yang hobi ngelus-ngelus hidung selama wawancara itu mengeluarkan secarik kertas.

“Frankly speaking, kami akan mengajukan saran kepada pemerintah agar segera menerbitkan sertifikasi blogger. Ini untuk mencegah, mengurangi, dan atau mencegah munculnya blog dan blogger yang tidak bertanggung jawab.”

“Apa yang Anda maksud dengan blogger yang tidak bertanggung jawab itu?” saya mengajukan pertanyaan investigatif (halah…halah)

“Mereka yang tulisannya mengumbar nafsu syahwat, memprovokasi orang lain untuk melakukan perbuatan negatif, menyebarkan artikel yang menimbulkan keresahan, perasaan tidak senang, adu domba, dan memecah belah bangsa, Pakde. Mungkin saja ada blogger newbie yang belum memahami hukum. Bagaimanapun juga blogger harus faham perbuatan yang dilarang undang-undang terutama Undang-Undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.”

Saya manggut-mangggut sambil mengacungkan jempol.

“Termasuk di dalamnya blogger yang suka menebar tulisan atau gambar soax, Pakde,” timpal Car Man, yang nama aslinya Karman dan punya bengkel mobil di halaman belakang rumahnya.

“Hoax kaleeeee,” sahut saya.

Sambil salaman dengan Pak Trala dkk saya berbisik: “Jika saran Anda tentang sertifikasi blogger disetujui pemerintah jangan-jangan nanti blogger yang sudah mengantongi sertifikat dapat honor ya. Seandainya untuk satu artikel diberi fee 500 ribu dan sebulan saya bisa menerbitkan 30 artikel kan lumayan tuh dapat fee 15 juta.” Tak saya duga Car Man tertawa terbahak-bahak disusul tawa lepas Pak Trala, Trili, dan May Moon. “Blogger matreeee,” lanjut saya saya sambil ngakak sampai mbrebes mili.

Bluk, saya terbangun karena gablokan tangan isteri mendarat di bokong saya. “Blogger matre..blogger matre. Bising tau,” ujar Mbokne arek-arek sambil mematikan tivi.

Ohhhhhh….rupanya isu sertifikasi terbawa dalam mimpi saya. Lho, siapa tahu mimpi sertifikasi blogger menjadi kenyataan.

.

Sertifikasi profesional, kadang hanya disebut dengan sertifikasi atau kualifikasi saja, adalah suatu penetapan yang diberikan oleh suatu organisasi profesional terhadap seseorang untuk menunjukkan bahwa orang tersebut mampu untuk melakukan suatu pekerjaan atau tugas spesifik. Sertifikasi biasanya harus diperbaharui secara berkala, atau dapat pula hanya berlaku untuk suatu periode tertentu. Sebagai bagian dari pembaharuan sertifikasi, umumnya diterapkan bahwa seorang individu harus menunjukkan bukti pelaksanaan pendidikan berkelanjutan atau memperoleh nilai CEU (continuing education unit).

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

11 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Masirwin says:

    Dibaca serius ternyata cuma mimpi hahaha

    Mungkin saja bisa jadi referensi bagi pihak yang berwenang

  2. felyina says:

    ealaaaaah!!! Cuma mimpi. Tiwas bacane nggetu, Dheeeeee.

    Lha di tv dan medsos sudah serius saling debat gt je
    Jadi saya yang mimpi saja

  3. Mechta says:

    Waah…Pakde mmg selalu selangkah lbh maju… Siapa tahu apa yg skg baru muncul di mimpi akan terrealisasi jg..
    Pokoke jempoool buat Pakde yg always Pro ini..

    Kapan sih Pakdemu selangkah mundur?

  4. damarojat says:

    Harus berapa sks ya untuk lulus sertifikasi?

    Nggak tahu ya Bu
    Nanti saya tanyakan deh

  5. Sulis says:

    Pantesan mimpi pakdhe…namanya malah tralala trilili..
    Btw..pakdhe penggemar Antv banget, podho anakku. Klo udah liat shiva…anteng

    Saya pernah sekolah di India selama 11 bulan jadi suka serial India

  6. Awen fals says:

    Kalau boleh tau alasan trili ngelus” hdungnya kenapa pakde? 🙂

    memang tdk slah juga apbila ada yg mngtakan ” kekuatan kata” lbih tajam dr peluru”, akbat artikel soak bsa juga mmcah blah bbrp glongan.

    Wah saya nggak tahu Mas. Lha saya kan malu kalau tanya-tanya hidung hahaha

  7. Semua serba disertifikasi. Sampe pakde mimpi tentang sertifikasi hehehe

    Mimpi lansia suka aneh2

  8. Mugniar says:

    Aamiin aamiin

    Kalo kejadian, saya bakal makin rajing ngeblog 🙂

    Laris manis

  9. Inayah says:

    oalaaah.
    tapi aku setuju lho pak dhe. banyak blogger robot juga, yg ngambil2 konten gitu..ditempel di blognya.

    Hooh, nggak punya malu dan etika

  10. Muhammad Adam Hussein, S.Pd says:

    Makanya itu mas, Adamssein Media meluncurkan sertifikat blogger untuk mencegah blogger yang tidak bisa bertanggungjawab terhadap kontennya.

  11. runi says:

    hmm, ealaaaaah!!! Cuma mimpi. Tiwas bacane nggetu, Dheeeeee.

    Lha di tv dan medsos sudah serius saling debat gt je
    Jadi saya yang mimpi saja

Leave a comment