Berapa Lagu?

Berapa lagu? Pertanyaan ini bukan ditanyakan kepada artis yang mau menyanyi di panggung. Juga bukan pertanyaan seorang penyanyi dangdut kepada para penonton sebelum dia melantunkan suaranya. Ini menyangkut ranah rumah tangga. Persisnya urusan di balik kelambu atau selimut (halah..halah…mbulet)

Kehidupan pasangan suami isteri tak bisa dipisahkan dari sex atau berhubungan badan. Bukankah salah satu tujuan dari pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan. Rumah tangga dirasakan lengkap jika hadir di antara suami-isteri anak atau anak-anak yang menyenangkan. Memang setuju jika ada yang berkata bahwa bukan hanya sex yang menentukan bahagia atau tidaknya rumah tangga. Tetapi juga tak dapat diingkari bahwa tidak sedikit pasangan suami-isteri yang akhirnya berpisah karena urusan sex.

Urusan ranjang bukan hal yang tabu untuk dibicarakan bersama. Komunikasi blak-blakan antara suami-isteri memang sebaiknya dilakukan agar kehidupan sex yang sehat dan menyenangkan kedua belah pihak dapat diwujudkan. Tak perlu malu mengatakan yang sejujurnya apa yang terjadi dan apa yang dikehendaki oleh pasangannya. Namun demikian kaidah agama juga tetap harus diperhatikan antara lain jangan melakukan sex yang menyimpang.

.

Buku Setelah Kataa Sah Berkumandang

.

Di bawah ini saya berikan sedikit ilustrasi tentang hubungan suami-isteri.

Mbah Muslim yang sedang bersiap pergi ke sawah kaget melihat Jarnobae, sahabatnya satu kelas di Sekolah Rakyat datang.

“Assalamu alaikum, Slim.”

“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Datang dengan wajah kecut seperti mangga muda pasti lagi bokek.” Mbah Muslim mulai ngledek sohib karibnya.

“Ojok guyon, saya lagi mangkel.” Tiba-tiba Lukarni, isteri Jarnobae muncul dengan mata sembab. Mbah Muslim tanggap, pasti ada apa-apa dengan laki-bini sahabatnya ini.

“Assalamu alaikum. Tolong saya, Cak…..”

“Ayo masuk rumah saja, nggak enak ngobrol di teras.” Mbah Muslim segera mengajak tamunya masuk rumah dan duduk di ruang tamu.

“Ada apa ini kok pagi-pagi kalian berdua datang dengan wajah awut-awutan?”

“Tanya saja kepada Lukar. Kalau saya ngomong nanti dikira lambe prucat-prucut kayak beton.” Jarnobae melirik isterinya yang menangis terisak-isak.

“Kalau ada masalah sebaiknya segera dituntaskan. Kalian kan sudah beranak-cucu. Malu donk sama tetangga kalau ribut melulu. Sembako habis?”

“Bukan itu, Cak.” Lukarni mulai angkat bicara.” Semalam bapake arek-arek marah besar lalu keluar rumah, entah pergi ke mana.”

“Nah lho. Ada apa dengan kamu, Jar?” Mbah Muslim ganti menginterogasi sahabatnya.

“Siapa yang nggak marah. Suami sudah ingin banget kok isteri dijawil diajak dangdhutan malah tidur memunggungi suami sambil ngempit bantal.”

“Kamu memang nggak tahu diri, Yo. Malam-malam kok ngajak isteri dangdhutan apa nggak menganggu tetangga.” Mbah Muslim seperti kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.

“Hwokkkk, kamu kayak nggak tahu kebutuhan laki-laki saja.” Mbah Muslim tertawa ngakak mendengar ocehan temannya. Tak urung Lukar ikut tersenyum mendengar ucapan dua sohib karib itu.

“Malam itu saya memang lagi capek, Cak. Siang sampai sore saya menjaga cucu yang lagi demam. Bapak-ibunya kan bekerja di luar rumah jadi saya yang mbantu mengurus cucu. Kebetulan pembantu mereka lagi mudik.” Lukar menuturkan alasannya. “Habis sholat Isya saya ngantuk banget. Eeee…Bapake arek-arek colak-colek saya ngajak haha hihi.”

“Jadi kamu menolak ajakan suami?”

“Iya, Cak. Sampeyan kan tahu tabiat teman sampeyan ini. Kalau di tempat tidur saya diam saja dia ngamuk.” Lukar mulai bicara blak-blakan.

“Iya donk, ngapaian dangdhutan jika nggak ada gerakan.” Jarnobae  yang memang SH3 (suami hot..hot..hotz…) mulai berreaksi. Tak urung Mbah Muslim nggak tahan juga untuk tidak ngakak lagi. Walaupun ini urusan domestik tetapi bagaimanapun juga urusan tempat tidur sahabatnya harus diluruskan.

“Terus terang saya memahami apa yang diutarakan oleh isterimu, No. Namanya badan lagi letoi dan mata juga mengantuk, kalau dibawa tidur kan memang asoi.” Jarnobae sudah menduga bahwa sahabatnya ini akan membela isterinya.

“Ah kamu, lalu bagaimana dengan saya?” Jarnobae memang idem dito dengan Kromo Dingklik, jago ngeyel. “Kalau kepala sudah cekot-cekot saya harus bagaimana?” Mbah Muslim faham apa yang dimaksud dengan ‘kepala cekot-cekot’ itu.

“Tindakan Lukar juga kurang pas. Kamu kan bisa berbicara baik-baik dengan suamimu, Luk. Tidur membelakangi suami sambil ngempit bantal kan kayak nantang perang dan merupakan indikasi bahwa kamu sedang melakukan aksi konfrontasi.” Mbah Muslim melirik Lukarni.

“Nah, betul itu,” Jarnobae langsung nyletuk. Lukar buang muka sambil tersenyum…pyook. Melihat gelagat ini maka Mbah Muslim meluncurkan jurus terakhir sebelum berangkat ke sawah.

“Saya ingin menyampaikan sebuah hadits yang yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: ”Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjangnya, lalu istri tidak mendatanginya, hingga dia (suaminya-pen) bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya hingga pagi tiba.” Jarnobae mengacungkan dua jari sementara Lukar tertunduk, manggut-manggut.

“Dengarkan tuh kultum Cacakmu.” Jarnobae merasa mendapat  angin.

“Sebaliknya suami yang bijak sebaiknya juga melihat sikon pasangannya. Masa nahan semalam saja nggak bisa.” Kini gantian Lukar yang unjuk jempol.

“Komando dan pengendalian nafsu harus ciamik ya, Cak.” Jarnobae mringis.

“Sekarang kamu masih letoi dan ngantuk, Luk?” tanya Mbah Muslim kepada Lukarni.

“Kalau sekarang sih sudah oke, Cak.” Lukar mulai cengengesan.

“Ya sudah. Kalau begitu kalian berdua sekarang pulang. Tutup pintunya, stel kaset, lalu dangdhutan satu atau dua lagu. Saya mau ke sawah nich.” Mbah Muslim ngasih tanda kepada sohibnya. Jarnobae ngedipin mata sambil nyolek isterinya. Lukar langsung nyubit paha sang suami.

Cerita di atas sebaiknya juga difahami dengan baik. Urusan sex sebaiknya dikelola dengan baik sehingga dicapai win-win solution. Salah satu pihak jangan hanya mementingkan diri sendiri, mencari kepuasan dirinya sendiri. Itu egois namanya. Untuk mendapatkan kepuasan bersama maka perlu menyesuaikan irama. Lakukan pemanasan yang cukup sampai keduanya siap tinggal landas. Jangan tergesa-gesa, main tancap gas lalu ngebut dan berhenti dengan mendadak. Sementara pasangannya baru sampai ditanjakan, sedang ngos-ngosan tiba-tiba berhenti. “Bikin pusing kepala,” katanya.

Sekali lagi, perlu komunikasi yang baik termasuk dalam urusan ranjang. Suami-isteri tak perlu ragu atau malu untuk bertanya kepada pasangannya: “Mau berapa lagu nich?” Jika dengan satu lagu (maksudnya berapa ronde gitu lah) saja pasangan sudah merasa cukup, puas, dan bahagia tentu tak harus memaksakan main 2-3 lagu. Kecuali pengantin baru, barangkali. Isteri juga jangan jaim minta kepada suami untuk ‘menyamakan langkah’ agar tak ada yang mendahului klaar sebelum pasangannya berada di awang-awang. Jika sudah sama-sama oke barulah duel on the bed bisa digelar. Istilahnya itu loch…hahahaha.

Karena hubungan sex bukan hanya sekedar melepas sahwat dan kesenangan belaka tetapi juga untuk mendapatkan keturunan maka sangat dianjurkan untuk berdoa sebelum melaksanakan hubungan badan. Dengan berdoa insha Allah akan terhindar dari godaan setan dan membuahkan keturunan yang sehat dan sholih.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

1 Comment

Skip to Comment Form ↓
  1. Sri Wahyuni says:

    Betul sekali Pakde, terimakasih saya sudah diingatkan. Memang masalah ranjang bisa jadi masalah sensitif dan bisa memicu keretakan hubungan suami istri bila keduanya tidak saling terbuka.
    Salam.

    Nggak usah malu2 kucing tapi tetap menjaga etika dan norma

Leave a comment