Indonesia Berkualitas Siap Menghadapi MEA

Ani Berta, sahabat saya yang cantik, smart, dan enerjik menggelar kegiatan One Day One Post bagi anggota grup Fun Blogging. Saya pun langsung mendaftarkan diri karena saya menganggap kegiatan ini banyak manfaatnya. Ada aroma ‘upaya paksa’ dalam kegiatan ini agar blogger rajin dan konsisten mengupdate artikel. Tak elok jika blog yang sudah dibangun dengan susah payah dan penuh kebanggaan itu terbengkalai. Dengan rajin update blog maka trafik, domain authority, dan Alexa traffic rank akan meningkat.

Hari pertama One Day One Post dibuka dengan tema Persiapan Menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) Pembahasan diserahkan kepada masing-masing blogger. Itulah sebabnya ada kata ‘ala kamu’ di buntut tema yang diusung hari ini. Tema keren ini untuk membuka mata blogger tentang MEA di sela-sela menulis job review atau berfoto selfie di berbagai tempat nan keren-keren.

Tema ini saya anggap menarik sekaligus menantang. Walaupun saya pernah menjabat Direktur Kerjasama Internasional di Departemen Pertahanan RI (Sekarang Kementerian Pertahanan) namun yang saya tangani sebatas kerjasama di bidang pertahanan. Selain itu pengetahuan saya tentang ekonomi amat sangat terbatas. Pendidikan umum saya saja STM yang tak pernah mempelajari ekonomi. Sementara dalam pendidikan militer pelajaran ekonomi juga hanya menyentuh kulitnya belaka. Oleh karena itu saya tak akan berlagak-lagu membahas MEA secara rinci dan ilmiah.

Dari namanya saja sudah jelas bahwa MEA adalah kerjasama negara-negara anggota ASEAN di bidang ekonomi. Saya hanya bisa membayangkan sebuah pasar yang teramat luas. Penjual dan pembelinya adalah rakyat dari negara-negara ASEAN. Yang dijual juga bukan hanya barang tetapi juga jasa. Di pasar luas itu bukan hanya ada persatuan tetapi juga ada persaingan. Harapan saya dan tentunya juga semua orang, persaingan yang muncul adalah persaingan yang sehat. Tak elok jika dalam sebuah persatuan ada yang curang dan menikam dari belakang.

Dalam MEA produk dan jasa akan mengalir dari negara A ke negara lain. Siapa yang akan berjaya dalam MEA ini? Tentu saja mereka yang mampu menghasilkan dan menjual barang berkualitas dengan harga yang pas. Untung tak terlalu banyak tetapi barang ludes terjual lebih sip. Mereka yang hobi main sabun, tipu-menipu, dan manis di mulut tetapi lain di hatinya akan terlibas, terkena seleksi alamiah. Jarum pentul yang indah dilihat tetapi mudah patah dan berkarat akan ditinggalkan pembelinya. Seperti itu kiasannya.

Di bidang jasa juga demikian. Mereka yang profesional dan bermoral yang akan unggul dan memenangkan persaingan. Pekerja atau pegawai yang dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam ukuran waktu yang telah ditetapkan lah yang akan terpakai. Pimpinan perusahaan tak segan-segan mengganti pekerja lokal yang tidak profesional. Orang yang masuk grup 804, masuk kantor jam 8 pulang jam 4 sore tetapi tengahnya kosong melompong karena banyak ngobrol, mungkin sudah tidak laku lagi. Orang seperti ini dianggap tidak produktif sehingga tak layak berada di perusahaan. Pekerja yang amoral juga akan tersingkirkan. Tukang adu domba, penggemar KKN, penjilat, galak tetapi clutak (suka ambil uang dan barang secara ilegal) harus bersiap diri untuk dilengserkan.

Selain yang sudah saya sebutkan di atas, kecepatan dan ketepatan waktu juga akan menjadi primadona. Konon, seperti yang pernah saya lihat di layar televisi, Pak Presiden Jokowi marah besar karena urusan dwelling time. Waktu tunggu kontiner di sebuah pelabuhan dinilai masih lama. Beliau langsung menginstruksikan agar dwelling time dibenahi agar tidak menganggu roda perekonomian. Pemakai jam karet harus mundur. Demikian pula mereka yang menganut madzab ‘jika bisa dipersulit mengapa harus dipermudah’ akan habis masa edarnya. Petugas yang hobi menerima aneka jenis uang secara tidak benar akan tersingkir. Uang suap, uang sogok, uang pelumas, uang tahu sama tahu, uang pertemanan, uang pelicin, susu tante (sumbangan sukarela tanpa tekanan), susu babu (sumbangan sukarela bantuan bulanan) lambat laun akan sirna karena menyebabkan biaya tinggi.

Masalah ekonomi memang menyangkut urusan kesejahteraan. Jika urusan ini tidak mulus dampaknya bisa merembet ke urusan keamanan. Meningkatnya kriminalitas, pemogokan buruh, terorisme, dan bentuk-bentuk gangguan keamanan lain juga dipengaruhi oleh kurang baiknya kesejahteraan. Kesejahteraan dan keamanan saling berkaitan dan saling mempengaruhi.

Sebagai seorang purnawirawan TNI yang tidak mau bekerja lagi di sektor yang lain tentu akan senang jika dengan MEA ini kesejahteraan dan keamanan semakin membaik. Bisa makan dengan cukup, pakaian tak banyak tambalan, tidur nyenyak, bepergian dengan nyaman dan aman serta dapat beribadah dengan tenang itu sudah merupakan kebahagiaan yang tiada tara.

Itulah hal-hal yang sebaiknya dipersiapkan oleh pemerintah dan rakyat Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Intinya, Indonesia harus bisa meningkatkan kualitasnya di berbagai lini sehingga mampu bersaing secara sehat dan lestari dengan warga dunia.

~Artikel hari ke-1 ( 28 Maret 2016) One Day One Post~


Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

31 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Susu tante?? Hehe..
    Intilahnya apik men dhe..

    Hehe,, tumben pakdhe masih ada typonya sedikit 😀

    Hehe.. Piss pakdhee

    Iya sudah saya betulkan

  2. inda chakim says:

    awalnya saya sempat psimis dg mulai dibukanya MEA ini pak de. khawatir para pelaku usaha di negeri ini bakal kalah saing sm yg dr sono2. Tp makin ke sini, pikiran psimis itu ilang. Stlh melihat geliat para pelaku usaha, khussnya ukm2, yg bgitu smngat dan kreatif inovatif produktif. Ditmbh lg dg dukungan pemerintah. Smoga deh dg adanya MEA ini ekonomi Indonesia lbh baik lg. amin.
    tengkiu share nya ngge pak de.

    Kita harus cerdas dan tangkas

  3. Dian Kelana says:

    Mantap pak De. Ibaratnya tentara, begitu mendapat tantangan langsung angkat senjata dan serbuuuuuuuuuuu…….

    Mumpung lagi anget Mas

  4. Rosa says:

    Waahh, Pakdhe kereennn, udah posting tema hari pertama 🙂

    iya tuh pakdhe, kayaknya jam karet kok jadi ciri khas Indonesia, ya 🙁 bahkan saya pernah dengar selorohan yang mengatakan, bukan orang Indonesia kalo gak jam karet. Huuaa, sayang banget 🙁

    Iya, rapat kadang molor mulainya

  5. Lidya says:

    mengupgrade kemampuan masing-masing di bidangnya ya pakde

    Yes, agar semakin piawai

  6. @nurulrahma says:

    Pakde selalu Total kalo bikin postingan. Sip, sipppp!

    Kalau nggak total malu sama adik2
    Matur nuwun

  7. zata ligouw says:

    Setuju banget pakde, produk/jasa berkualitas dengan harga yang pas adalah resep kita bisa bersaing di era MEA ini ya..

    jangan barang asal jadi

  8. ade anita says:

    Sayangnya Indonesia rada telat nyiapin pelaku usaha utk mea ini..tapi tetep optimis

    Harus pindah persneling

  9. Inayah says:

    Saya kerja di sektor industri pak Dhe. Dan salah satu masalah kami adalah serbuan produk cina. Pasar Eropa sudah membentengi dengan regulasi khusus..pun dengan pasar timur tengah. Indonesia masih adem ayem

    Koncoan soalnya

  10. Tatit Ujiani says:

    Setuju pakdhe sharusnya poduk2 kita ditingkatkan kwalitasnya. Saya juga jath cinta dengan produk Tanggul Angin. Selain itu peningkatan kesejahteraan karyawan juga udu ditingkatkan.

    Dulu saya sering berburu dompet ke sana untuk hadiah lomba

  11. Jarwadi MJ says:

    dalam percaturan global, semuanya saling terkait ya pakdhe. antara politik, ekonomi dan pertahanan. amerika bahkan melemahkan negara lain dengan menyerangnya dengan komoditas murah 🙂

    Iya, perang dalam berbagai lini

  12. semangaaat…I know you can do it Pakdhe…MEA mulai bergeliat yaaa..dan Indonesia harus punya strategi yang baik agar bisa mendapat banyak manfaat..

    Kerja keras semua pihak dan di semua lini

  13. cputriarty says:

    suka banget dengan istilah pakde diatas, untuk yang berjiwa “cluthak” , penjilat, suka KKN dll memang harus diberantas habis sampai akar2nya. Buang stigma buruk SDM lawas Indonesia demi memperoleh SDM yang luar biasa tangguh aset prsiapan era MEA.

    Iya, sudah nggak jamannya lagi

  14. azi says:

    bener pak. yang bersiap-siap bukan hanya ngara tapi juga para masyarakatnya yg nantinya akan langsug terlibat dalam MEA ini. jika ingin sukses di era MEA ya harus jadi orang yang punya skill dan kterampilan yg lbih di berbagai bidang. atau di satu bidang namun dia bnar2 ahli.

    Semua pihak harus ikut cawe2

  15. Semoga pemerintah juga mempersiapkan dengan sebaik2nya ya pakde, demi kemakmuran rakyatnya juga

    Tugas mereka dan kita juga

  16. dian nafi says:

    eh keren, gasik postingannya. bagus lagi 🙂

    Mumpung masih segar

  17. Desy Yusnita says:

    Semoga pemerintah membantu dalam proses upgrade kemampuan masyarakat kita terutama yang dipedesaan sehingga sama-sama berkembang dan siap menghadapi MEA ini ya Pak De.

    Betul, jangan sampai ngirim TKI yang kurang trampil

  18. Mereka yang profesional dan bermoral yang akan unggul dan memenangkan persaingan. Ah, betul juga pakdhe. Sekarang persaingan untuk bekerja di perusahaan semakin ketat ya. Jika tidak berkualitas nantinya bisa tersingkir.

    Iya, mereka yang malas2an akan tersingkir

  19. Gia Ghaliyah says:

    Pakde, berdasarkan data BPS tahun 2012, tenaga kerja Indonesia yang produktif adalah 120 juta orang. Lalu bagaimana jika nanti tenaga kerja asing masuk ke Indonesia seperti tenaga kerja Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dll yang memiliki kemampuan komunikasi bahasa Inggris atau keterampilan lainnya yang lebih baik dibandingkan negeri kita? Dalam waktu yang singkat, perguruan tinggi Indonesia harus mampu mempersiapkan lulusan yang siap bersaing di kancah internasional. Sebab jika tidak, nantinya kita justru menjadi penonton di kandang sendiri.

    Mungkin ada kebijakan khusus agar tenaga asing tak membanjiri negeri kita

  20. Ririe Khayan says:

    MEA tak hanya terkait dengan perdagangan dan ekonomi ya Pakdhe, tapi menyeluruh hingga sosial, budaya, ketahanan dan keamanan nasional. Semia aspek, dr hulu, hilir hingga muara memiliki peran penting untuk menghadapi MEA

    Saling mempengaruhi soalnya

  21. Dengan one day one post, setidaknya kita menjadi blogger yang produktif ya pakde. Siap mensukseskan MEA!

    Betul sekali, banyak manfaatnya

  22. Kita juga harus bersiap dong, Pakdhe menghadapi MEA ini. 🙂

    Harus donk

  23. Okti Li says:

    Semestinya para sepuh tinggal menikmati masa tua dengan segala jaminan ya Pak… tinggal khusu ibadah istilahnya

    Sebaiknya begitu

  24. Helena says:

    pakde bisa aja istilah-istilahnya

    Banyak kok cadangannya

  25. Yang jujur dan amanah yang akan bertahan. Begitu juga dengan yang mau berkembang. MEA juga banyak sisi positifnya ternyata.

    Iya ada plus-minusnya

  26. Oke, ini tambahan tip yang berguna untuk menghadapi MEA. Meski saya ngakak dulu membaca bagian awalnya. Hahaha.

    Masyya….saya jadi ingin tertawa juga

  27. Ida Tahmidah says:

    Apik tenant pakde…:)

    terima kasih

  28. Profesional dan bermoral, tidak 804, iyaaa.. 86 pakdheeee…

    805 sekali Bu

  29. Opickaza says:

    Waduh saya sudah tdak bsa one day one post pakde soalnnya saya skrng di urbinasopen, waigeo timur, waisai raja ampat. Disana nggak ada sinyal gak ada listrik, gaka ada pasar, hidup serba kekurangan bisa update blog kalau ada di kota kabupaten aja pak de

    Rapopo Mas
    Lakukan apa saja yang bisa di tempat itu

  30. Setuju sama peningkatan kualitas produk, dan sdm juga harus berpacu semua, menyongsong MEA, untuk negeri tercinta

    Jangan sampai mereka saja yang membanjiri negeri nan elok ini

  31. Keke Naima says:

    Mudah-mudahan Indonesia bisa bersaing di era MEA ini, Karena sebetulnya peluang bisa terbuka lebar 🙂

    Kita memang harus lebih bergairah lagi mengupgrade diri

Leave a comment