Karikatur Saya di Majalah Dinding DSSC India

Topik ke-10 One Day One Post yang dilansir oleh Mbak Ani Berta selaku shohibul ODOP membuat saya klimpungan. Beliau rupanya belum tahu jika pensiunan jenderal awet ngganteng ini jebolan STM jurusan mesin. Murid yang 99 % cowok sangar mana mau mikir yang manis-manis gitu. Kalau mbubut, menggergaji, ngebor, dan pekerjaan kasar sih kami jabani. Ada sih pelajaran menggambar tetapi ya menggambar tehnik yang dimulai dengan hitung-menghitung gitu.

Waktu SD  kayaknya saya nggak pernah melihat ada majalah dinding. Saya mengaku memang pernah menggambar Pak Karnadi guru saya yang kulitnya agak hitam dan berkumis. Sosok guru yang hobi berlari dari rumahnya menuju sekolah ini saya gambar di lantai dengan kapur tulis. Posenya tolak pinggang. Hasilnya? Kepala Sekolah dan Pak Karnadi mengangguk-angguk , sulit ditebak artinya. Tapi karena tak ada komen atau action dari beliau ya saya aman-aman saja. Seandainya saja waktu itu sudah musim mading pasti para guru saya gambar di kertas lalu saya tempel di situ.

Sekolah di SMP idem dito. Majalah dinding juga tidak ada. Mungkin mading belum jadi mode atau trending topik. Padahal kala itu menggambar vignette lagi boming. Wong saya juga sering melakukannya. Dulu sih belum ada spidol, yang kami pakai untuk menggambar adalah tinta bak. Kegiatan kesenian dan olahraga ada tapi kok belum ada yang mikir soal mading ya. Mungkin kami lagi terkesima film agen 007 James Bond yang kala itu juga sedang ngetop.

Pakde, kapan pamer madingnya? Intronya panjang banget. Mbanyakin jumlah kata, iya kan. Iya..ya..ini sudah mau masuk.

Lalu saya mengingat-ingat pendidikan militer. Sepengetahuan saya waktu menjadi Taruna Akabri juga nggak ada mading. Kegiatan ekstra kulikuler memang seabreg. Dari drumband Canka Lokananta, aneka olahraga permainan, olahraga bela diri, melukis, mengukir, gamelan, band, Radio Tidar, dan lain sebagainya. Sampai pendidikan militer tertinggi Angkatan Darat saya nggak menemukan majalah yang nemplek di dinding.

So, Pakde nggak bisa cerita majalah dinding di sekolahnya. Bisa donk.

Tahun 1994 saya mendapat tugas mengikuti pendidikan Army Staff College di Defence Services Staff College (DSSC) Kampusnya di Wellington, Nilgiris, Tamilnadu, India. Wow…kampusnya keren, besar, full bunga. Nama gedungnya persis seperti di film seri Ashoka. Ada gedung Ashoka, Chanakya, Chandragupta, Valmiki, dan tokoh lainnya.

Setiap jam 10 pagi kami para perwira siswa mengikuti tea time (acara minum teh) bertempat di gedung Chanakya. Di situ terdapat locker room untuk tiap perwira siswa dan DS (Directing Staff) Gedung ini paling sering kami kunjungi. Selain untuk minum teh juga untuk memeriksa isi loker masing-masing. Jadwal pelajaran, file penugasan, dan hasil penugasan kami masuk ke locker. Termasuk surat pribadi tentunya.

Setelah beberapa minggu kami mengikuti pendidikan mulai ada yang nempel-nempel gambar atau artikel di dinding ruangan. Pelaku utamanya ya para perwira siswa. Paling sering adalah tempelan gambar karikatur. Barangkali menggambar lebih mudah daripada menulis puisi atau artikel ya.

Melihat gambar karya teman-teman akhirnya saya tertarik juga. Saya buat karikatur tentang perjalanan pendidikan di situ. Dengan pekerjaan rumah yang bertubi-tubi, kuis, ujian, dan menulis disertasi seolah kami sedang melakukan pendakian gunung. Pada puncaknya kami akan menerima gelar P.SC (Pass Staff College) dan M.SC (Master of Science in Defence and Strategic Studies) Saya tuangkan itu dalam karikatur. Ini dia goresan spidol saya yang tertempel di dinding Chanakya.

.

Karikatur karya Abdul Cholik

Mengikuti pendidikan itu seperti mendaki gunung

Karikatur karya Abdul Cholik

Nggarap disertasi melibatkan anak-isteri

Karikatur di buku the OWL

Dua karikatur ini juga menghiasi buku The OWL DSSC 93-94

.

Ternyata sahabat saya Mayor Arifin dari TDM juga suka membuat karikatur dan menempelkannya di locker di Chanakya. Lucu juga pose perwira siswa.

.

Karikatur karya Major Arifin

Mengantuk itu manusiawi

.

Tempel-menempel karikatur dan aneka karya perwira semakin ramai. Puisi, pengumuman kegiatan olahraga, kegiatan isteri para siswa juga ikut meramaikannya. Sayangnya pada jaman itu belum dikenal selfie. Saya juga belum punya kamera digital dan handphone. Kalau mau lihat hasil pemotretan ya harus pergi ke Coonor untuk cetak fotonya.

Itulah majalah dinding di kampus kami tercinta. Memang kehadirannya spontanitas, tanpa deklarasi. Jika apa yang tertempel di dinding itu kemudian dimasukkan ke dalam buku the OWL berarti ada yang mengurusinya. Mereka adalah perwira siswa yang menjadi panitia penerbitan buku kenang-kenangan kami.

.

Foreign and Civilian Officers

Foto bersama selalu ada

.

~Artikel hari ke-10 ( 6 April 2016) One Day One Post~




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

12 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Dari muda memang sudah eksis dan kreatif ya pak de. Saya malah sama sekali ngga bisa bikin sket begituan.. Kecuali gunung waktu SD..heheheh

    Aksi corat-coret biasanya sudah muncul waktu kecil Bang

  2. Helena says:

    Pakde buat karikatur tentang one day one post challenge ini dong.

    Saya coba

  3. Pakdhe pinter nggambar karikatur ya? Sama kayak suami saya dong.. 😀

    Pinter sih enggak, nekat saja

  4. nova violita says:

    pak de..banyak dokumentasi..foto-foto jadul sepertinya tersimpan rapi..

    Iya, sayang kalau musnah

  5. ndop says:

    Apik gambaranmu pak dhe. Aku ora pinter nggambar koyok ngono. Isoku ngeblat wajahe wong hahaha

    Karikatur sakbisaku Mas

  6. mira says:

    PakDe karikaturnya bagus. Seneng juga ya kalau hasil karyanya di muat di buku kenang-kenangan. Dulu pas saya smp sudah ada mading, tapi malah belum ada buku kenang-kenangan. Baru ada pas sma.

    Terima kasih Mau belajar lagi biar tambah bagus

  7. Jarwadi MJ says:

    jaman saya sekolah sudah mulai lumayan ada mading pakdhe, meski belum sebagus mading2 yang ada sekarang, hehe

    Lha dulu belum model je

  8. Waduh pakdhe ternyata pinter bikin karikatur.
    Gambar pakdhe keren banget. Sekarang sudah nggak pernah bikin karikatur lagi Dhe?

    Proporsionalitasnya belum tepat, harus belajar lagi

  9. Inayah says:

    Hihihi…jadi..mulai sekarang STM harus ada mading.

    Mungkin anak-anak sekarang lebh modist dan gaoel

  10. Eko Nurhuda says:

    Itu di sesi foto bersama Pakde yang mana ya? Hihihihi.
    Karikaturnya mengingatkan saya jaman SD, dulu kartun model begitu sedang marak. Saya juga sempat ikut-ikutan buat kartun, tapi gak pernah bagus. Akhirnya cuma diremek-remek dan dibuang kertasnya. 🙂

    Barisan kedua berdiri, nomor dua dari kiri

  11. Pak de udah Doktor ya..salam kenal pak de,

    Belum, pernah sih doktor (ngendok di kantor karena nggak punya rumah dinas)

  12. Hassan Mohamad says:

    Foto saya..no 3 dari kanan di barisan hadapan. Foreign students of DSSC 49 1993/94

    Iya Pak. Kenangan indah

Leave a comment