Silaturahmi Bisa Memperpanjang Umur dan Murah Rezeki

”Siapa yang ingin rezekinya diperluas dan umurnya panjang maka hendaknya ia bersilaturrahmi.”
(HR. Bukhari)

Sebagai seorang muslim tentu saya mengimani sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ini. Itulah sebabnya saya selalu berusaha untuk memperkokoh tali silaturahmi dengan kerabat, sahabat, dan tetangga.

Waktu kecil dulu saya dan beberapa teman memang sering berkelahi. Ada saja penyebabnya, namanya juga anak-anak. Saling ejek, berebut alat mainan, saling senggol ketika main sepakbola bisa berujung perkelahian. Setelah gelut biasanya kami tidak bertegur sapa, sehari atau beberapa hari. Kemudian ada teman lain yang mempersatukan kami kembali. Pada kali yang lain berkelahi lagi dengan teman yang lain lagi.

Menginjak remaja, dewasa, dan sampai manula ini saya nggak pernah lagi berselisih faham dengan kerabat atau sahabat. Hubungan dengan tetangga juga terpelihara dengan baik. Tetapi ada loch di antara tetangga kami yang saling tak bertegur sapa dalam waktu yang cukup lama. Ada yang disebabkan oleh urusan warisan, hutang-piutang, dan lain sebagainya.

Domisili keluarga saya boleh dikatakan saling berdekatan. Yah masih se kabupaten. Dengan demikian maka kunjung-mengunjung bukanlah hal yang luar biasa. Jika ada kerabat yang kebetulan melintas di dekat rumah pastilah mereka singgah. Kunjungan resmi hanya terjadi pada saat merayakan hari raya Idul Fitri. Kebetulan Emak merupakan orang paling tua di lingkungan keluarga. Mereka pada mengunjungi Emak, sungkeman sambil saling maaf-memaafkan. Sayapun juga kecipratan karena saya selalu berada di kampung saat hari baik tersebut.

Sebagai anak tunggal saya memang terus menjaga agar tali silaturahmi dengan kerabat terpelihara dengan baik. Saya memang merupakan saudara paling tua di antara anak dan cucu paman saya. Para sepupu memanggil saya Mas, sedangkan cucu paman saya memanggil saya dengan sebutan Pakde.

Silaturahmi menjadi terasa istimewa setelah saya berhasil membuat buku silsilah keluarga isteri saya. Buku pertama adalah silsilah keluarga isteri dari pihak bapak sedangkan buku kedua silsilah dari keluarga pihak ibu mertua. Kedua buku inilah yang mempertemukan keluarga besar isteri saya. Saya pun menjadi dikenal oleh mereka.

.

Buku silsilah keluarga isteri

Buku silsilah yang mempertemukan keluarga besar

.

Kunjungan ke keluarga semakin sering terjadi karena mereka sudah mempunyai alamat dan nomor telepon yang saya tulis di buku silsilah tersebut. Namun yang paling seru adalah saat diselenggarakan reuni perdana. Salaman diseryai cipika-cipiki saling nggablok punggung terjadi. Mereka yang dulu pernah bertemu sebagai teman sepermainan menjadi pangling ketika bertemu lagi setelah menjadi dewasa dan sudah pada menikah. Tak pelak acara reuni menjadi mirip pasar burung, penuh cerita dan canda. Yang dulu ceking mendadak seperti pejabat yang makmur. Bodinya subur dandanannya pun berubah. Tak ada rambut berkelabang dua dan poni pun sudah lenyap hahaha.

Pertemuan perdana dalam skala besar tersebut dilanjutkan dengan pertemuan secara partial oleh masing-masing keluarga. Seorang kerabat yang kebetulan sedang mengikuti pendidikan di Belanda bisa mengunjungi kerabatnya yang bermukim di negeri orang tersebut. Jika yang satu sedang berada di Yogya maka kerabat yang kebetulan sedang jalan-jalan ke kota gudek bisa mampir. Kini mereka bahkan mengadakan acara arisan perwilayah yang tempatnya bergantian di rumah keluarga-keluarga. Tak peduli seberapa uang arisannya yang penting bisa saling mengunjungi satu sama lain.

Berkunjung keluarga besar memang ada uniknya. Jika kami memberi tahu akan main ke rumah salah satu famili biasanya langsung getok-tular. Tuan rumah menyebarkan info ke saudara-saudaranya yang lain. Alhasil pada saat waktunya tiba rasanya seperti reuni mini. Saudara laki-laki, perempuan ngumpul jadi satu bersama anak-anaknya. Mereka juga membawa aneka kue dan buah. Duduk lesehan, ngobrol ketawa-ketiwi sambil menikmati kue dan makan berat juga.

.

Lesehan kumpul keluarga

Lesehan juga oke

Reuni mini

Nikmatnya kumpul keluarga besar

.

Hal yang sama juga terjadi keluarga besar mengunjungi saya. Jika mereka menyatakan ingin berkunjung maka saya pesankan agar memberi tahu waktunya melalui SMS atau telepon. Maaf, bukannya saya sok pejabat, bukannya saya sok sibuk tetapi semata-mata untuk mencegah agar mereka tidak kecelik, nggak ketemu karena saya tidak ada di rumah. Kasihan kan kalau mereka dari jauh lalu harus balik bakul karena tuan dan nyonya lagi shopping atau touring (halah..halah…)

Dikunjungi keluarga besar memang menyenangkan. Rumah yang semula sepi menjadi riuh-rendah karena gelak tawa dan obrolan yang gayeng. Kalau mereka datang hari Minggu maka suguhan utamanya adalah berenang secara gratis hahaha. Ini acara yang disukai anak-anak. Acara tambahannya ya makan bakso, dan atau makan siang. Foto bersama merupakan sesi terakhir walaupun tidak selalu di adakan.

.

Manfaat silaturahmi

Dikunjungi keluarga besar sangat menyenangkan

.

Kunjungan kepada keluarga, kerabat, dan sahabat memang banyak manfaatnya.

1. Meningkatkan tali silaturahmi utamanya memperkenalkan anak-anak agar mereka saling mengenal siapa dari keluarga pihak mana dan bagaimana mereka harus saling memanggil. Seorang laki-laki dan perempuan yang umurnya sudah lebih tua dari saya dan isteri ternyata wajib memanggil kami berdua dengan sebutan Om dan Tante. Alhasil cucu mereka adalah buyut kami.

2. Untuk menghindari ‘kepaten obor’ atau tidak tahu lagi di mana dan siapa saja saudara mereka. Jika generasi ke-1 dan 2 masih saling mengenal mungkin generasi ke 3dan seterusnya tak diketahui lagi. Untuk mencegah hal yang demikian itu maka saling berkunjung atau mengadakan arisan dan reuni menjadi cukup penting. Konon ada seorang gadis dan jejaka berpacaran. Setelah ditelusuri ternyata mereka masih ada hubungan keluarga dekat yang oleh orang Jawa tidak boleh menjadi pasangan suami-isteri.

3. Pada saat berkunjungan tiap orang saling bercerita, bercanda, dan mengenang peristiwa lama yang lucu-lucu sehingga menimbulkan gelak tawa. Kebahagian-kebahagiaan sepert inilah yang menimbulkan kegairahan dan semangat sehingga berpengaruh terhadap kesehatan jiwa-raga. Insha Allah bisa memperpanjang umur. Bandingkan dengan orang yang tak suka  bersilaturahmi. Hidupnya terasa hampa, kosong, dan menjadi sensitif karena hobi menyendiri.

4. Dengan silaturahmi kemungkinan rezeki akan singgah. Keponakan yang sekian lama menganggur akhirnya mendapat pekerjaan. Hal ini terjadi setelah familinya memberitahu kenalannya yang mempunyai kedudukan cukup bagus di sebuah perusahaan. Silaturahmi bisa menjadi pembuka pintu rezeki baginya.

5. Sudah menjadi kebiasaan di lingkungan masyarakat Indonesia. Jika famili mengunjungi familinya maka buah tangan hampir selalu dibawanya. Sebaliknya famili yang didatangi juga menjamu tamunya dengan makanan dan minuman. Mereka bahkan saling menyelipkan amplop satu sama lain. Apalagi di hari raya Idul Fitri, amplop bergambar unik-menarik biasanya beredar di mana-mana.

Tentang silaturahmi ini ada sebuah pengalaman yang menarik. Alkisah suatu hari isteri saya mengajak saya untuk sowan ke rumah Pakde yang tinggal di Surabaya. Setelah mengetuk pintu dan uluk salam keluarlah seorang wanita. Setelah melihat isteri saya beliau langsung berkata: “Maaf ya Dik saya tidak membeli dagangannya.” Isteri saya dengan tangkas memperkenalkan diri:” Saya Ipung, Bude.” Si Bude langsung memeluknya sambil minta maaf. Rupanya Bude mengira saya dan isteri saya adalah pedagang yang ingin menawarkan barang. Rapopo, namanya juga jarang ketemu soalnya tempat tinggal isteri saya di Cimahi dan Budenya di Surabaya.

.

~Artikel hari ke-3 ( 30 Maret 2016) One Day One Post~




Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

20 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Ria Rochma says:

    Betul pakdhe,
    Alhamdulillah, dikeluarga saya, baik dr garis keturunan bapak/ibu, baik dr mertua, semua masih menjaga silaturrahim. Dan memang banyak rezeki yang diperoleh dr silaturrahim.

    Anak-anak jangan sampai kepaten obor, pelihara kontak dengan sarana komunikasi yang ada

  2. Desy Yusnita says:

    Rame banget Pak De keluarganya. Buku silsilah itu bermanfaat banget ya. Makasih ide nya Pak De….

    Hooh, komunikasi haus intens di antara keluarga agar tak kehilangan kontak

  3. zata says:

    wahhh manfaatnya banyak dan bagus2, jadi makin semangat menjaga silaturahmi keluarga nioh pakde…

    Hooh, anak-anak jangan sampai kehilangan jejak familinya

  4. Ririe Khayan says:

    Seru banget saat saling ktemu dgn sanak saudara,
    Bnyk kisah dan cerita nostalgia yg di alami di masa lalu membangkitkan suasana yg guyub dan akrab walau tdk srg ktemu.

    Mereka yang tak bertegur sapa lebih dari 3 hari sebaiknya segera baikan

  5. Ade anita says:

    Bener pakde. Krn silaturahmi itu akan mendekatkan yg jauh dan mengakrabkan yg dekat

    Anak2 harus didekatkan dengan familinya

  6. Wah senang sekali kumpul bersama keluarga besar ya Pakdhe.
    Karena aku satu kota dengan keluarga suami, jadi tiap hari bisa ketemu.
    Nah kalo keluarga besarku, minimal setahun satu kali kumpul bareng 🙂

    Kumpul bareng memang penting agar persaudaraan langgeng lestari

  7. momtraveler says:

    Seneng a dhe kalo bisa sering2 kumpul kaya gini. Mrmang silaturahi itu harus disempatkan krn memang banyak manfaatnya.
    Kapan2 kalo ada rejeki jalan2 ke jombang ah silaturahmi ke rumaha pakdhe

    Monggo ditunggu

  8. Waduuh, kok sampe dikira orang jualan ya ..hi..hi..
    Saking lamanya gak bertemu ya De.

    Pakde hebat deh, bisa buat buku silsilah. Pasti prosesnya panjang ya De?

    Buku silsilah kedua 8 bulan klar karena proses pengumpulan data agak lama
    Pengembalian formulir data kan tergantung mereka

  9. Leyla Hana says:

    Betul sekali, Pakde.. Saya udah dapat banyak pengalaman, dpt rejeki karena silaturahim

    Hooh, Tuhan telah mengaturnya ya

  10. eda says:

    pakdheee.. jgn kangen maen ke sanaaa…

    Silakan main lagi dan berenang lagi

  11. silaturahmi temu muka secara langsung memang mesti dilestarikan terus ya, meskipun sudah ada teknologi yang mempermudah komunikasi, hehehe

    Benar, tatap muka-tatap hati lebih asoi dan berarti
    Apalagi kalau disuguhi hahahaha

  12. Pas saya nikah dulu juga ada kejadian, adiknya nenek saya dan adeknya kakek suami ternyata juga masih ada ikatan saudara. Lho ngapain kamu disini? Sama2 ngaku kalau mantennya khan cucuku 🙂

    Ini salah satu akibat dari kurangnya silaturahmi antar keluarga besar

    Nah itu dia
    Jika masih percaya akan hitungan2 maka pernikahan mereka akan menjadi pikiran sesepuh.

  13. Wah Masya Allah..
    Setahuku rata2 keluarga dari Jawa (Tengah) banyak yang membiasakan untuk silaturrahmi atau kumpul2 bersama keluarga besar ya? makanya saat lebaran banyak yang mudik dalam rangka silaturahim.. 🙂
    Oya, mau tanya pakde.. kalau mau ikut kegiatan Ode Day One Post itu bagaimana?

    One Day One Post khusus untuk komunitas Fun Blogging
    Anggotanya adalah blogger yang pernah mengikuti Workshop Fun Blogging di berbagai kota

  14. Gia Ghaliyah says:

    Paling seneng kalau silahturahmi cerita-cerita lucu-lucu emak bapak kita. Sekeluarga sampai ngakak gituuuu

    Masa lalu mereka mungkin memang patut dikenang ya

  15. Ida Tahmidah says:

    Wah asyiik ya Pakde…. sayang dikeluarga saya cuman dari pihak saya aja yg rutin silaturahim 🙂

    Bagus, jangan sampai kepaten obor

  16. Jarwadi MJ says:

    bila masyarakat di negara kita sudah rajin silaturahmi, semoga usia harapan hidup negara kita bisa meningkat, mengejar ketertinggalan dengan Monaco (usia harapan hidup 90 an tahun), Macau, San Marrino, Andorra dan Jepang 🙂

    Usia harapan hidup di Indonesia saat ini masih 70 tahun 🙂

    Itu usia angka ya Mas
    Usia lebih panjang jika menebar kebaikan

  17. Seruuu banget ya, Pakde. Semoga silaturahimnya bisa terus terjaga karena silaturahim dapat melapangkan rezeki dan memperpanjang usia… Barokallahu fiik, Pakde

    Benar. Tanpa silaturahmi hidup jadi sepi
    Amiin

  18. Inayah says:

    Ingin buat buku silsilah juga..tapi pasti mentok cuma sampai kakeknya kakek.

    Mulai saja dari Kakek/Nenek kita
    Kecuali data di atasnya ada

  19. Komenku hilang.
    Hikk… 🙁

    Lho ditaruh di mana?

  20. […] agar persahabatan kami tidak hanya di dunia maya tetapi juga dengan tatap muka langsung. Bukankah silaturahmi bisa memperpanjang umur dan memperluas rezeki. Jika di dunia maya saya sering menulis kata […]

Leave a comment