Pentingnya Membuat Laporan Keuangan Bagi Blogpreneur

Do the one thing you think you cannot do. Fail at it. Try again. Do better the second time. The only people who never tumble are those who never mount the high wire. This is your moment. Own it.

Oprah Winfrey
.




Saya sengaja memasang quote yang ditulis oleh Oprah Winfrey untuk menyemangati dan memotivasi diri saya sendiri. Mengapa? Yup, terus terang topik yang diberikan oleh Mbak Ani Berta kali sesungguhnya bukan domain saya. Pada berbagai kesempatan saya sering memberikan saran kepada sahabat blogger agar menulis artikel yang disukai dan dikuasai. Sedangkan topik kali ini belum saya kuasai dan juga agak kurang saya sukai. Tetapi karena ODOP merupakan tantangan maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, saya harus menghadapi tantangan ini dengan dada terbuka.

Saya bukan blogpreneur dan juga bukan pakar keuangan. Tentu tak elok jika berpretensi bahwa saya memahami secara mendalam seluk-beluk pengelolaan uang. Oleh karena itu apa yang saya sajikan hanyalah kulit luar saja. Prinsip ‘manusialah yang harus mengatur uang agar uang tidak mengatur manusia’ layak saya pedomani.

Istilah blogpreneur pun baru saja saya dengar. Untuk mendapatkan pemahaman tentang istilah ini maka terlebih dulu saya harus mengutip istilah entrepreneur (wirausahawan)

Wirausahawan (bahasa Inggris: entrepreneur) adalah orang yang melakukan aktivitas wirausaha yang dicirikan dengan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun manajemen operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.

Berdasarkan pengertian tersebut di atas maka blogpreneur artinya blogger yang memanfaatkan profesi dan kegiatannya untuk mendapatkan penghasilan, baik dengan memanfaatkan blog, situs, dan atau kegiatan lainnya. Penghasilan tersebut dapat berupa uang atau barang.

Ketika usahanya masih berskala kecil, seorang blogpreneur, barangkali masih menggunakan manejemen tukang cukur di bawah pohon rindang. Kegiatan dan pengelolaan uang hasil kerjanya ditangani sendiri. Tetapi kelak, jika usahanya berkembang mungkin dia akan menggaji orang lain untuk membantu menangani kegiatan dan keuangannya.

Tentang istilah laporan keuangan pun saya mengintip lagi.

Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi :

-Neraca

-Laporan laba rugi komprehensif

-Laporan perubahan ekuitas

-Laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan berupa laporan arus kas atau laporan arus dana

-Catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan

.

Nah, pengertian sudah ada. Aplikasinya tergantung kepada blogger yang bersangkutan. Namun intinya tetap sama yaitu laporan keuangan perlu dibuat agar diketahui perkembangan usahanya. Tetapi ada sebuah pertanyaan, jika blogpreneur membuat laporan keuangan, lalu untuk siapa laporan itu dibuat? Apakah blogpreneur mempunyai seorang bos atau majikan yang minta laporan? Untuk pihak lain yang ingin mengadakan kerjasama dengan blogpreneur dan dia/mereka minta diberikan laporan keuangan?

Jika semua pertanyaan tersebut jawabannya ‘tidak’ maka berarti laporan keuangan itu untuk dirinya sendiri. Jika hal itu benar, bukankah lebih tepat jika laporan keuangan itu diubah menjadi Catatan Keuangan. Tetapi ya sudahlah, garap bae.

Let’s make it simple. Bagi saya, laporan keuangan atau catatan keuangan memang penting dan selayaknya dibuat oleh blogpreneur. Jangankan seorang wirausahawan, ibu rumah tangga saja ada yang rajin membuat catatan keuangan kok. Tujuannya juga sangat sederhana yaitu agar dalam hidup dan kehidupannya tidak lebih besar pasak daripada tiang. Jika gaji suami sebesar Rp.4,5 juta tentu tak elok jika setiap bulan mereka mengeluarkan uang sebesar Rp.6 juta. Maka dari itu kaum ibu ada yang memasukkan uang yang dimiliki ke dalam amplop-amplop. Ada amplop belanja rutin untuk kebutuhan dapur, amplop dana pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan amplop pengeluaran tak terduga. Soal praktiknya ketat atau tidak ketat ya terserah mereka masing-masing. Paling tidak, dengan amplop-amplop itu ada sebuah kendali.

.

Laporan Keuangan

.

Laporan keuangan pada hakekatnya berisi modal, baik uang atau aset lain. Modal bisa uang sendiri atau hasil pinjaman dari pihak lain. Selanjutnya ada uraian tentang belanja atau pengeluaran apapun dan uraian tentang pemasukan uang yang merupakan hasil dari usahanya. Dari uraian tersebut akan diketahui apakah usahanya untung atau rugi. Selanjutnya akan diketahui atau diperkirakan dalam waktu berapa lama usahanya itu akan mencapai break event point (titik impas) Sebuah titik dimana biaya atau pengeluaran dan pendapatan posisinya seimbang sehingga tidak terdapat kerugian atau keuntungan.

Laporan keuangan harus dibuat dengan cermat. Uang pribadi yang bukan hasil usaha tentu jangan dimasukkan dalam laporan ini. Demikian pula pengeluaran untuk keperluan pribadi. Jika hal itu terjadi maka laporan keuangan akan menjadi membingungkan sehingga takaran sukses dan tidaknya usaha akan menjadi bias.

Salah satu hal yang perlu dicermati juga adalah tingkat keterbacaan laporan. Jika pembuatnya belum menguasai akunting sebaiknya laporan keuangan dibuat lebih sederhana sehingga mudah dibaca. Walaupun sederhana tentu tetap harus memuat pendapatan (aktiva) dan pengeluaran (pasiva) sehingga dapat diketahui laba-ruginya untuk bahan pembuatan kebijakan lebih lanjut.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

9 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. echaimutenan says:

    aku juga bikin pakde walau sederhana tapi tau tiap bulannya dari blog apa aja

  2. helni says:

    catatan pengeluaran. itu istilah dalam laporan keuangan saya pakde. pengeluaran rutin tiap bulan. di amplopin seperti pak de sebut di atas. tapi banyak cara yang saya terapin dalam mengatur keuangan dapur. karena saya orang yang mudah berubah moodnya. 😀

    tapi klo kayak mb echa di atas yang sudah punya pemasukan di tiap blognya, wah kayaknya musti punya laporan keuangan yang sedikit lebih serius dari laporan keuangan ibu2 sperti saya. :)))

    Bagusnya memang ada catatan agar tahu seberapa besar penghasilan dari blog

  3. Jadi lebih tertib ya, Pakde. Cash flow sebesar apapun dari ngeblog jadi lebih terkendali bila dicatat.

    Saya terus terang nggak pernah mencatatnya

  4. Azzuralhi says:

    Bener banget Pakdhe. Catatan keuangan pada dasarnya untuk memudahkan kita, biar ngga amburadul antara pemasukan dan pengeluaran.

    Supaya tahu perkembangannya juga

  5. Agung Rangga says:

    Jadi ingat pelajaran akuntansi nih pakdhe. :’))

    Rumit ya Mas

  6. zata ligouw says:

    Saya belum lama juga nih mulai bikin laporan keuangan pakde, sebelumnya nggak bikin karena menganggap ini sampingan dan hobi aja, tapi lama2 kok rasanya perlu bikin ya biar bonus dari ngeblog bisa lebih keliatan hasilnya ;p

    Iya, nggak disangka-sangka hasilnya cukup banyak ya

  7. Helena says:

    Format laporan keuangan untuk diri sendiri sebenarnya sederhana saja. Yang penting kelihatan arus masuk dan keluar dana untuk apa saja.

    Betul, tak harus yang ribet2

  8. Laporang keuangan kadang bikin pusing, tapi sesungguhnya sangat bermanfaat 🙂

    Iya, sering terabaikan juga ya

  9. […] begitu banyak lahan yang bisa digarap dan menghasilkan artikel yang menarik dan bermanfaat. Ketika blogpreneur sudah mulai dilirik maka mau tak mau, suka atau tak suka, blogger wanita sepatutnya meningkatkan […]

Leave a comment