Pak Sopir Saya Harus Menegurmu

Dua minggu yang lalu saya berangkat ke Surabaya karena ada dokumen penting yang harus saya ambil. Saya memutuskan naik bis karena kereta api Sarangan Ekspres yang pernah saya naiki baru akan berangkat pada sekitar pukul 15.35. Ini juga sekaligus napak tilas perjalanan naik bis Jombang-Surabaya pp yang dulu saya lakukan ketika sekolah di STM I Surabaya. Saya di antar Cak To ke simpang tiga Sambong. Di sini biasanya bis berhenti sehingga saya tak harus ke terminal Jombang.

Tak lama menunggu sebuah bis datang. Saya segera naik dan menempati tempat duduk pada deretan ketiga dari depan. Di samping saya duduk seorang laki-laki yang mengaku berasal dari Ponorogo. Tujuannya sama yaitu ke Surabaya.

Bis ini lumayan nyaman. Selain full AC juga ada alat pemutar video yang terletak di atas kabin pengemudi. Lagunya? Sudah pasti lagu-lagu dangdut. Saya lihat di layar beberapa penyanyi secara bergantian mendendangkan lagu dengan aneka pakaian dan gayanya. Saya mulai menyiapkan tablet untuk memotret sambil berselancar di Facebook.

.

.

Pas di simpang tiga Keplaksari, yang ada taman lengkap dengan sebuah pesawat tempur, kondektur mulai menarik bayaran. Dari Jombang sampai Surabaya tarifnya hanya Rp.10.000. Saya anggap ongkos ini murah dengan kondisi bis yang bagus dan nyaman. Ada pedagang koran dan majalah, langsung meletakkan barang dagangannya di pangkuan penumpang. Kelak akan diambil lagi jika tidak dibeli oleh penumpang.

Sambil melihat layar video sesekali saya melirik pengemudi. Ups, saya lihat pak sopir sedang memainkan gadget. Tampak sebuah telepon genggam di tangan kirinya. Saya mulai agak mangkel. Bis terus melaju dan telepon genggam masih ada di tangan kiri pak sopir. Sesekali pak sopir melihat layar monitor HPnya. Kadang jarinya tampak menggeser-geser tombol. Lalu lintas tidak terlalu padat.

Sampai di daerah Peterongan saya lihat Pak sopir masih memainkan HPnya sambil terus menyopir. Saya tidak tahan lagi. Jika perbuatan pengemudi bis ini dibiarkan bisa-bisa akan terjadi kecelakaan.

“Pak sopir jangan main handphone. Banyak penumpang nich,” tegur saya dengan suara nyaring. Tanpa berkomentar pak sopir segera meletakkan HP. Tak ada suara apapun dari penumpang yang lain. Bis terus melaju. Teguran ini harus saya sampaikan agar sopir tidak lalai dan berasyik masyuk dengan handphone. Bagaimana jika tiba-tiba ada orang yang menyeberang? Tidakkah pak sopir ingat banyak kecelakaan lalu lintas yang terjadi akibat ulah sopir yang tidak tertib. Pak sopir juga harus tahu donk bahwa orang Indonesia juga hobi menjalankan kendaraan di jalan raya dengan melawan arus. Melihat atau menjawab SMS mungkin hanya memerlukan waktu beberapa detik. Tapi itu sudah mengisyaratkan bahwa pengemudi sedang tidak melihat jalan raya. Ini sungguh berbahaya. Jika kendaraan di depan mengerem mendadak maka tabrakan tak akan bisa dihindarkan.

Ketika bis menepi sejenak untuk mengambil penumpang saya lihat seorang pengamen masuk. Ambil posisi di tengah. Sambil berdiri di gang pengamen mulai mendendangkan lagu-lagu pop Indonesia. Suaranya bagus, permainan gitarnya juga tak kalah oke.

.

.

Mendekati Mojokerto pengamen mulai bersuara. “Kami segera turun, selamat jalan semoga selamat sampai tujuan. Bagi yang ikhlas silakan menyumbang semampunya. Hanya yang ikhlas saja loch.” Pengamen segera mendekati penumpang dari belakang ke depan. Karena lagunya bagus maka saya menyumbang dua lembar uang rupiah. Cukuplah untuk makan nasi rawon 2 piring dan dua gelas teh panas.

.

Penumpang silih berganti naik dan turun. Pak sopir sudah tidak menyentuh handphone lagi. Dengan khusu’ kedua tangannya memegang kemudi, saya lega. Perjalanan bus relatif lancar karena lalu lintas memang tidak terlalu padat. Lagu dangdut kembali berkumandang. Saya tersenyum ketika melihat tampilan seorang penyanyi duet dengan pemain musik. Liriknya itu loch gimana geto. Supaya tidak penasaran maka saya kutipkan untuk sahabat lirik lagu berjudul Ngidam Penthol tersebut dari situs KapanLagi.

.

Ngidam Pentol

oleh: Monata.

{Suara Laki-laki (Lk), suara perempuan (pr))

.

Lk: Bojoku meteng telung wulan

Ben dino ngiler jarene ngidam

Sak njaluke kudu keturutan

Iki ngidam opo kesempatan **

.
Pr: Iki ngono perbuatanmu mas

Wetengku cilik mbok gawe lemu

Kowe seneng nggugahi wong turu

Ra diwehi mengko kowe nesu ***

.
reff

LkYowis cah ayu, bojoku sing ayu dewe

Dewe dewe dewe

Gek ndang omongo, opo sing mbok kepengini

Gek ndang tak turuti

.

PrSing tak pengini, sing gampang-gampang

Janji kudu keturutan

Aku pengin pentol sing enek endok’e

Aku pengin pentol sing dobel endok’e

Aku pengin pentol pentol pentol pentol endok

Sing okeh emine

.

Lk: Kowe pengin pentol

Pr: Sing enek endok’e

Lk: Kowe pengin pentol

Pr: Sing dobel endok’e

Lk: Kowe pengin pentol pentol pentol pentol

Pr: Endok, sing okeh emine

(Yang belum mengerti artinya silakan bertanya kepada sahabat yang mengerti ya…)

.

Dalam perjalanan tersebut saya sempat berpikir bagaimana jika pak sopir ndongkol atas teguran saya tadi. Jangan-jangan sampai di terminal Bungurasih dia bilang kepada sesama sopir bahwa saya melakukan ‘perbuatan tidak menyenangkan’? Bagaimana jika pasukan sopir itu tak berpikir panjang lalu nggebuki saya hahahaha. Ach, pikiran nakal itu segera saya tepis. Masa pak sopir diingatkan yang baik mau marah.

 .

.

Bus masuk terminal Bungurasih dengan selamat. Penumpang turun satu persatu dengan tertib. Saya pun langsung hengkang menuju tempat mangkalnya bis kota. Setelah clingak-clinguk sebentar saya bertanya kepada petugas terminal letak bis kota menunggu penumpang. Petugas mengarahkan saya menuju arah timur tempat bis kota berada. Bingo, saya mendapatkan bis kota tujuan Bratang sebuah terminal yang tak jauh dari rumah saya.

.

.

Pada kesempatan ini saya menghimbau para pengemudi bis, angkot, dan angkutan umum lainnya agar berhati-hati dalam menjalankan tugasnya. Bukan hanya isteri dan anak-anak Anda saja yang mengharapkan sopir pulang dengan selamat tetapi juga penumpang dan keluarganya. Orang Jawa bilang:” Bilai sak ketipan,” artinya bahaya itu hanya sekejap datangnya. Tapi yang sekejap itu bisa menelan korban jiwa dan harta benda.

Jika nyopir jangan memainkan HP, jika main HP jangan nyopir. Taati segala peraturan lalu lintas dan etika dalam mengemudi. Banyak pengguna jalan raya di sana dengan sikap dan tabiat yang beraneka ragam pula. Pejalan kaki atau penarik becak yang sudah hati-hati masih bisa celaka akibat ulah pengemudi kendaraan bermotor yang ceroboh.

Pak Sopir saya harus menegurmu untuk kenyamanan dan keselamatan kita bersama. Jika suara saya terdengar keras itu memang saya sengaja. Dengan cara itu maka penumpang yang lain dan kondektur mengetahui bahwa sudah ada orang yang mengingatkanmu. Jangan khawatir, saya tak akan melaporkan perilakumu kepada bos. Yang penting ke depan pak sopir tidak mengulangi perbuatan tak terpuji itu.

Ngaten nggih!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

6 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. Lidya says:

    kadang saya takut menegur pakde, kalau sopr tidak terima malah bawa kendaraannya makin ugal-ugalan

    Ya hentikan saja, lalu ambil alih kemudi

  2. innnayah says:

    Pak Dhe kok jadi baper sih. si Pak Sopir ngga dongkol kurasa, mungkin dia berhenti main hape karena batrenya habis hehehe.

    Oh tidak sayang
    Pas di lampu merah dia main HP lagi dan saya bilang:”Nah kalau di lampu merah boleh Pak.”

  3. Dedy says:

    Memang harus nya bgt pak de. Tapi banyak yg enggan melakukannya

    Harus ada yang mengingatkan

  4. dWi (Nining) says:

    hahahahaha iya ya kadang mau negur gt kepikiran “Wah jangan2 tar pak sopir….” ketambahan pas negur penumpang lainnya cuek aja, duh.
    tapi daripada amit2 ya pak dhe….smoga kita senantiasa dilindungiNya di mana pun berada, aamiin 🙂

    Saya harus menegurnya daripada nanti semua celaka

  5. selalu hatihati dijalan ya pakdhe..

    Yoi Mas

  6. […] Dalam angkutan umum berukuran sekitar 8mx3mx2,5 meter itu setidaknya ada 3 golongan yang mencari rezeki. Yang pertama tentu pak sopir dan kondekturnya. Mereka berdua mengumpulkan ongkos dari para penumpang. Ada kewajiban baginya untuk menyetor hasilnya kepada pemilik perusahaan bis. Sopir dan kondektur akan menerima upah atau gaji sesuai kesepakatan dengan pemilik bis. Kewajiban utamanya tentu membawa kendaraan sebaik mungkin agar penumpang tiba di tempat tujuan dengan selamat. Jika sopir bis lalai dalam menjalankan kendaraannya maka maaf pak sopir saya harus menegurmu. […]

Leave a comment