Rezeki Bersama Dalam Bis

Sejak tinggal di Jombang saya sudah beberapa kali naik bis dari Jombang ke Surabaya pp. Saya yang semula enggan naik angkutan umum non rel dan non boarding pass ini akhirnya mulai menyenanginya. Selain harganya murah ternyata banyak pemandangan yang saya temui di sepanjang perjalanan. Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang rezeki bersama yang ada dalam bis.

Dalam angkutan umum berukuran sekitar 8mx3mx2,5 meter itu setidaknya ada 3 golongan yang mencari rezeki. Yang pertama tentu pak sopir dan kondekturnya. Mereka berdua mengumpulkan ongkos dari para penumpang. Ada kewajiban baginya untuk menyetor hasilnya kepada pemilik perusahaan bis. Sopir dan kondektur akan menerima upah atau gaji sesuai kesepakatan dengan pemilik bis. Kewajiban utamanya tentu membawa kendaraan sebaik mungkin agar penumpang tiba di tempat tujuan dengan selamat. Jika sopir bis lalai dalam menjalankan kendaraannya maka maaf pak sopir saya harus menegurmu.

.

Bis Antar Kota Dalam Propinsi


.

Penjemput rezeki yang kedua adalah pedagang asongan. Ini hanya terdapat pada bis yang non patas. Mereka biasanya masuk ke dalam bis di titik tertentu lalu turun di titik yang lainnya. Dulu mereka hanya berteriak menawarkan dagangannya. “Tahu..tahu..tahu…untuk cemilan..masih anget..masih anget…” Begitu antara lain cara mereka menjajakan tahunya. Kini mereka lebih pro aktif. Dagangannya langsung diletakkan di dekat penumpang. Bisa dipangkuan, di atas tas, atau di tempat duduknya. Di antara penumpang ada yang membeli dan ada pula yang tidak. Pedagang asongan bukan hanya menjual makanan dan minuman loch. Ada yang menjual topi, mainan anak-anak, dan majalah. Dari titik ke titik pedagang asongan datang dan pergi silih berganti. Dari Jombang sampai Surabaya jenis dagangan yang paling sering saya lihat adalah tahu, kacang asing, lumpia, resoles, kacang rebus, permen, dan kedawung. Sedangkan jenis minumannya adalah soft drink, air mineral, dan minuman berenergi.

.

Pedagang asongan

Jajanan dalam bis

.

Pemburu rezeki yang ketiga adalah pengamen. Mereka juga datang dan pergi secara bergantian. Dari satu titik ke titik yang lain. Alat musik yang paling sering dipakai adalah gitar dan okulele alias kencrung. Hanya sedikit yang membawa ecek-ecek atau tape recorder/karaoke. Mereka ada yang bermain single dan ada pula yang berdua. Sepanjang pendengaran saya petikan gitar dan suara pengamennya juga cukup oke. Kadang mereka menyanyikan lagu yang liriknya lucu yang bisa membuat saya tersenyum.

.

Pengamen dalam bis

Permainan gitarnya oke, suaranya juga sip

.

Pengamen dalam bis agak berbeda dengan pengamen di jalan raya. Mereka yang ngamen di jalan raya (baca:lampu merah) umumnya langsung main musik dan bernyanyi. Sedangkan pengamen dalam bis ada sambutan pembukaan, menyanyi, dan sambutan penutup. Ada pula yang didahului dengan membagikan amplop kosong yang di bagian depannya ada tulisan. Tampilannya seperti di bawah ini.

.

Pengamen dalam bis

Amplop kreatif pengamen dalam bis

Ngisi atau tidak terserah penumpang

.

Salah satu sambutan penutup yang disampaikan oleh pengamen seperti ini. “Demikianlah sajian kami Bapak dan Ibu. Saya ucapkan terima kasih. Mohon bantuan semampunya dan seikhlasnya. Jika ada yang memberi banyak saya ucapkan semoga segera naik haji, yang memberi ala kadarnya semoga rezekinya ditambah. Bagi yang tidak memberi juga tidak apa-apa asalkan kalau ketemu lagi didobelin ya. Semoga selamat sampai tujuan.”  Usai sambutan si pengamen langsung mengedarkan bekas tempat permen atau topi kepada penumpang untuk diisi. Ada yang ngisi dan ada pula yang tidak. Pengamen yang mengedarkan amplop juga langsung mengambil kembali amplopnya. Mungkin ada yang mengisi dan ada pula yang tidak.

Dalam beberapa kali perjalanan saya belum menjumpai orang yang hanya meminta-minta.

Sopir dan kondektur bis tampaknya juga toleran dengan pengamen dan pedagang asongan. Mereka juga tidak perlu membayar ongkos. “Berbagi lahan dan sasaran rezeki lah,” begitu barangkali prinsip mereka.

Bus berlabel Patas biasanya bebas pengamen dan pedagang asongan kecuali di terminal. Sebelum bis berjalan mereka masih bisa masuk bis dan mengamen atau menjual barang dagangan. Begitu bis Patas berangkat tidak ada lagi pemburu rezeki sebagaimana saya sebutkan di atas.

Dalam bis jarak pendek, misalnya bis kota, juga ada pedagang asongan dan pengamen. Mereka hanya beraksi ketika di terminal saja. Sepanjang perjalanan dari terminal Bungurasih sampai terminal Bratang bis kota sudah steril. Hanya ada sopir, kondektur, dan penumpang saja.

Dalam bis ternyata ada rezeki bersama. Seberapa besarnya tergantung arahan Ar-Razzaq yang memberi rezeki kepada makhluk ciptaanNya.

Apa yang sahabat temui jika naik transportasi umum? Silakan share.



Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

9 Comments

Skip to Comment Form ↓
  1. adi pradana says:

    Wah jadi ingat masa lalu, saat bekerja di Cilacap, kalau pulang ke Jogja pasti naik Bis. Dan sering ketemu seperti gituan pak, sangat berkesan.

    Iya, asyik kok. Kayak turis

  2. 21inchs says:

    Wah PakDhe kreatip banget sampek difoto-foto permen jahe dan serba serbi di dlm bis nya..

    Biar menarik perhatian juri hahaha

  3. Ka Faqi says:

    Dulu malah prnah nemuin, org yg minta sedekah tapi make tato, muka seremmm, sambil nunjukin pulak surat yg katanya berisi keterangan baru bebas penjara…. walahh, ini minta sedekah apa nodong yaa, moga2 yg tipe spt ini sudah nggak ada….

    Hahahaha..minta2 kok nyeremin gitu ya

  4. Keke Naima says:

    itu permen jahe dari zaman dulu masih ada sampai sekarang. Kemasannya juga gak berubah 🙂

    Iya, sejak saya kecil

  5. Tandi Herdiansyah says:

    materi posting yang simple tapi sungguh menarik. terus berkarya pak
    best regard,

    Terima kasih Mas

  6. Haya Nufus says:

    Kadang kalau penjual atau pengamennya anak-anak bikin terenyuh ya pak Dhe. Kalau pengamennya suaranya bagus…. saya jadi berkhayal mereka bisa jadi artis beneran 😀

    Iya, ada yang pantas ikut pencarian bakat di tv kok

  7. saps ibubapa says:

    semoga terus maju dan sukses dalam bisnes.

    Terima kasih

  8. Nunu Nugraha says:

    Salam.
    Ceritanya sungguh inspiratif dan menggugah, Pak. Sungguh benar, bahwa Allah telah memberikan rezeki terhadap umatnya, apa pun profesinya, melalui cara apa pun.

    Barangkali, cerita inspiratif tersebut sangat berkaitan dengan asma-Nya yang tertuang dalam asmaul husna. Semuanya terangkum jelas di balik asma-Nya yang agung itu.

    Semoga, semua kita, senantiasa menjadi mahluknya yang selalu bersyukur atas segala nikmat-Nya.

    Amiin
    jangan menghitung yang belum ada

  9. Jadi inget masa2 kuliah dulu, naik bus ke terminal Bungurasih lanjut naik bus lagi ke Bratang. Baru tau pengamen memberi amplop kreatif seperti itu, tapi memang para pengamen bus itu banyak yang suaranya bagus.

    Iya, sempat2nya ngetik ya

Leave a comment